Jumat, 23 Januari 2015

Belajar tidak pesimis dari Banjir

Rasa dingin menjalar dari kaki, ingin rasanya menarik selimut yang tersibak. 02.12  - angka yang tertera di HP-ku. Kulirik tab notifikasi, penuh gambar burung yang menunjukkan belasan kicauan dari beberapa akun yang aku ikuti -- kali ini didominasi oleh kicauan @BPBDJakartaDetik-detik selanjutnya, rasa kantukku mulai menghilang. Masih dari balik selimut, ibu jariku terus berkelana antarlaman sempit dari layar 4,3 inci. Teringat diskusi beberapa hari lalu, kumasukan kata “tinggi muka air Katulampa dan Depok”. Agak lega setelah mengetahui bahwa 50 mm untuk Katulampa 160 mm untuk Depok, masih pada level Siaga IV rupanya. (Parameter status siaga dapat dilihat pada di sini)

Notifikasi terus berdatangan, beberapa gambar tentang genangan pun muncul. Hey, mereka bilang Siaga IV memiliki padanan kata “aman”, lalu kenapa ada gambar-gambar yang menunjukkan banjir? Tidak puas dengan layar  i9190, aku nyalakan laptopku. Menit selanjutnya beberpa jendela aku buka untuk mengunjungi beberapa laman terkait banjir. 

PetaJakarta.org menjadi salah satu laman yang kukunjungi dini hari tadi. Laman yang dibuat berdasarkan kerjasama triple helix antara BPBD DKI Jakarta – Twitter – Universitas Wollongong Australia ini menampilkan kicauan banjir yang ditangkap secara realtime. Wow, kicauan banjir terdapat di Jakarta Utara sisi Timur.
Sumber: http://petajakarta.org/banjir/in/map/ (diakses 23 Januari 2015 pukul 06.24WIB)

Penasaran, aku scroll mendekat tampilan perbesaran pada beberpa area yang berwarna gelap yang menunjukkan tingkatan kuantitas laporan, ingin tahu tentang kualitas laporan yang ada. Kudapati informasi menarik. Titik biru menunjukkan laporan terkonfirmasi yang berarti laporan tersebut menunjukkan lokasi sekaligus gambar mengenai kondisi banjir, sedangkan titik orange menunjukkan laporan yang belum terkonfirmasi.

Beberapa minggu yang lalu mereka juga merilis laman analisis yang menginformasikan statistik ringkas terkait data laporan yang masuk, sementara kulihat tertera 64 laporan terkonfirmasi dan 998 laporan belum terkonfirmasi.

Ya memang, ada perbedaan antara laporan banjir dengan kejadian banjir sesungguhnya.. tapi seperti kata dosenku dulu "apalah arti hazard jika tidak ada yang teriak?". Paling tidak laman ini menunjukan ada teriakan banjir. Bagaimana kualitas hazard dan disaster-nya butuh bahasan tersendiri.

Laman ini relatif menarik, tampilannya yang sederhana dan ringan (pasti servernya canggih!!), merupakan daya tarik tersendiri – sophisticated. Aku tahu, mereka didukung oleh tim teknis terbaik -- bahkan di dunia, tetapi tentu tidak ada yang tahu Jakarta selain warga Jakarta kan?
Menurutku, tampilan sophisticated itu menjadi semu saat makna yang dirasakan pengguna terasa dangkal. Rendahnya tingkat laporan terkonfirmasi menjadi tantangan besar laman ini, belum lagi keterikatan pelapor banjir terhadap laman ini. Aku yakin, laman ini menyediakan ruang luas bagi siapapun peminat sosial media dan komunitas, peminat banjir, peminat peta, dan yang pasti peminat coding untuk melakukan pengembangan.

Tentu saja, pengembangan tidak akan selesai pada jangka waktu kontrak pekerjaan (gossipnya 18 bulan). Apalagi pengembangan sebuah projek yang mensasar komunitas yang bentuk keterikatannya cair.

Ahh.. susah sekali untuk tidak pesimis di Indonesia.. tapi aku yakin semangat besar yang ada untuk menangani vulnerability ini tidak boleh dimatikan. Seperti BrenĂ© Brown pada ceritanya di TED “I know that vulnerability is the core of shame and fear and our struggle for worthiness, but it appears that it's also the birthplace of joy, of creativity, of belonging, of love

Yuk ah kita isi ruang kosong yang ada..
Buat proposal kerjasama ke mereka misalnya :))

Jumat, 14 Desember 2012

Kabar dari Negeri Lain

Pernah suatu saat jalan-jalan di dunia maya, dari satu blog ke blog yang lain - biasanya dilakukan kalau lagi ngga jelas, dimana downloadan film udah abis, wall facebook isinya sampah semua, twitter isinya racauan keluahan yang bikin muak. 
Suatu saat tercuplik kata "postcrossing" yang membawa gw pada sebuah laman web dengan tagline "send a postcard and recive a postcard back from a random person in the world!". Hanya buttuh waktu kurang dari 30 menit, gw resmi menjadi anggota web itu. 
--
"qiqiqiqi (or Qiqi) is a member from Indonesia . She has been a member for 3 months (97 days)"

dalam waktu 3 bulan, gw sudah mendapatkan delapan kartupos dari berbagai negara di luar sana. 



Kartu pos itu ada yang dari Jerman, Polandia, Spanyol, Russia, China, dan berbagai macam lainnya. Ada yang anak umur 4 tahun hingga nenek-nenek mantan guru di US.

eh, kartu pos Koala itu bukan lewat situs itu sih, tapi hasil maksa Nurul untuk ngirim kartu pos dari Sedney waktu dia dapet keberuntungan untuk jalan-jalan 2 minggu di sana.

---

Nah, tujuan lain dari gw ikutan situs ini adalah.. gw mau promo Indonesia! gw beli kartu pos bagus yang ada di toko buku yang gw temui (yang ternyata susah dicari). Trus gw ceritain aja tentang gambar di kartu pos itu. Bodo amat bahasa inggris gw dipahami atau engga.. tapi ternyata, ada juga yang njadiin kartu pos gw favorit loh..

Rabu, 26 September 2012

Thailand Hari ke-1 -- Coba Jalani, Lalu Nikmati


Tulisan ini ditulis sebenernya udah basi.. :))

26 Agustus 2012 -- Hari minggu terakhir di bulan Agustus dan tepat seminggu setelah 1 Syawal 1433H. Hari libur lebaran terakhir bagi sebagian besar pekerja di Indonesia. Gw, beranjak pergi ke luar Indonesia untuk pertama kalinya.

Ngelagut -- itu perasaan gw saat itu. Entah kenapa, rasanya ngga se-excited yang gw bayangkan untuk tahapan pertama mimpi besar gw.

tweet tentang kepergian

Phuket, salah satu provinsi di Thailand-lah yang menjadi tujuan keberangkatan gw kali ini. Dimulai dari adanya surel undangan menghadiri workshop Geography for Natural Disaster Management yang diadakan tahunan oleh ASEAN-European Academic University Network (ASEA-UNINET)

Sebenernya gw ngga begitu nyaman dengan tema workshop-nya, tapi entah kenapa saat mengirim aplikasi semua dilancarkan. Jika passport adalah salah satu prasyarat, sudah ada. Tiket pesawat yang harus ditanggung pihak pengirim, hari terakhir sebelum libur lebaran UI mengirimkan tiket keberangkatan-kepulangan. Penukaran mata uang, hanya menggunakan sms semua teratasi. Ya sudahlah, memang ini jalannya :))

 menunggu TG 343 Boeing 777-300

Thai Airways adalah maskapai yang gw naiki - ngga diijinin naik AA dan ngga ada penerbangan ke Phuket oleh GA - menuju Suvarnabhumi Airport, Bangkok untuk transit lalu ke Phuket International Airport, Phuket. "Jalur yang aneh" ucap seorang panitia saat saya mengkonfirmasi penerbangan saya pada panitia melalui surel. 
Oh iya, gw rupanya beruntung, Boeing 777-300 merupakan armada unggulan Thai Airways saat ini. Pesawatnya enak banget :)) 

Suvarnabhumi -- kesempatan lain lah gw ceritain pengalaman gw di bandara ini.. mungkin besok atau mungkin juga setelah ke bandara ini kali berikutnya. Yang pasti, kalo ke bandara ini pakailah sepatu yang nyaman untuk jalan jauh. Bandaranya gede!!  

Tepat waktu -- itulah kesan pertama pada Thai Airways. Gw tiba di  Phuket International Airport pukul 20.30 WIB - iya WIB karena sekalinya gw ke LN zona waktunya sama aja -,-

Saat mengambil bagasi, gw dibuat heran dengan suasana bandara ini. Bandara ini lebih mirip dengan bandara Ngurah Rai - Bali. Namun, saat itu sebagian petugas disana sedang NGEPEL lantai bandara. Awan gelap yang menemani perjalanan dari Bangkok ke Phuket ternyata adalah awan badai. Entah apa yang terjadi, bandara ini lambah-lambah air (apa ya istilah Indonesianya?)

sebagian besar pegawainya ngegulung celana dan ngepel lantai

Phuket -- kalau ngga ngeliat aksara yang terpampang di setiap papan nama yang ada, gw ngga akan sadar kalau itu ada di luar Indonesia. Wajah penduduknya serupa dengan wajah Indonesia, udaranya sama lembabnya, bahkan gw menemukan Toko Sepatu Bata di salah satu pusat perbelanjaan di sana (sayang tidak sempat berfoto dengannya)

Gw merekam jalanan Phuket seperti jalan di daerah Serpong - lebar dengan tanah kosong diantara bangunan satu dengan lainnya. Bangunannya pun mengingatkan gw pada kota-kota Jawa yang selalu gw lewati saat menggunakan bis malam setiap melintas Jawa. 

Kami diantar sejenak untuk ke Phuket Mall - semacam pusat perbelanjaan seperti Carefour dan LotteMart di Jakarta. Di sana gw sempatkan membeli salah satu Paket Mc Donald untuk makan malam kali ini. Yap, Mc D adalah pilihan gw. Mereka menyediakan Double Fillet-O-Fish di salah satu paket mereka, dan gw harus menambah extra bath untuk menukar softdrink menjadi lemond tea.

ngga beda jauh kan dengan hipermarket-hipermarket di Jakarta

Display counter hand-phone di Phuket Mall - Jual nomer ngga jual pulsa 

Sudut Mc Donald - penyelamat makan malam

Double Fillet-O-Fish seharga 176 bath

Beberapa dari rombongan memutuskan membeli simcard baru Thailand. Gw yang sudah mengaktifkan rooming international-nya Indosat, tergiur untuk membeli nomor lokal juga, karena entah kenapa koneksi internet dengan nomor Indonesia ngga bisa digunakan di negara ini. Butuh perjuangan untuk bertransaksi dengan pedagang lokal. Bahasa inggris mereka tidak jauh lebih baik dengan tukang ojek di deket rumah gw.

Hmm.. kota lain rasa yang sama, tentu toping bahasa dan aksaranya beda..
Sudahlah Qi, istirahat dulu. Phuket sudah terlalu lelah hari ini -- berkutat dengan badai dan hujannya.

Kamis, 31 Mei 2012

Happy World No Tobacco Day

“Untung hari anti tembakau sedunia cuma sehari.. kalo selamanya, siapa yang mbayarin beasiswa anak2 Indonesia ya? :))”
Itu twitt gw pada hari anti tembakau sedunia tahun ini..
---
Potongan kejadian saat wawancara pada sebuah pondok pesantren di Ciwidey beberapa bulan yang lalu masih mengganggu benak gw.

Kami – gw dan beberapa mahasiswa bule – sedang melakukan wawancara di sebuah ponpes yang menggerakkan perekonomian desa setempat melalui agrobisnis. 


Si Jimmy, bule Aussy yang meneliti tentang investasi di Indonesia, membisikkan pertanyaan ke gw yang harus gw tanyakan ke pengelola ponpes dengan bahasa Indonesia “are they have any sponsor for their activities? Who are they?”.
“Yah, kita banyak dapet bantuan.. ada dari Saudi, ponpes lainnya, pemda, Yayasan Sampoerna, ...” jawab si pengelola. 
Baru akan mentranslatenya dalam bahasa Inggris, Alex – bule Aussy yang sering ke Indonesia dibanding temen-temennya – langsung bilang ke Jimmy “they got their money from cigarette company, can you believe that?” yang langsung disambut dengan muka heran Jimmy. “is it possible Q? They work in islamic-educational and they allow money from cigarette?


Kayak disengat matahari di siang bolong (ya iyalah kita wawancara dipinggir ladang di siang hari), gw tergagap harus menjelaskan pertanyaan Alex dan Jimmy yang keduanya sama-sama memasang muka heran seheran herannya. Lebih heran lagi, saat gw menceritakan bahwa banyak pemilik pabrik rokok di pelosok Indonesia yang merupakan seorang pemuka agama.


Keheranan mereka sedikit mereda saat gw jelaskan tentang industri rokok di Indonesia yang memang sangat membantu perekonomian penduduk sekitar pabrik. Yang langsung diiyakan oleh Alex yang ternyata pernah melihat ratusan perempuan duduk teratur sembari membuat gulungan rokok layaknya mesin. Aku tersenyum mengatakan bahwa Indonesia dengan penduduk keempat terbanyak dunia, dengan sumberdaya manusia yang secukupnya, kami butuh sekali industri padat karya, dan pabrik rokok salah satunya. Kami bahkan sempat tertawa miris bareng, saat gw bilang bahwa gw pernah mendapatkan beasiswa dari salah satu yayasan perusahaan rokok Indonesia.  


“Cigarette’s more than breath for Indonesian, it’s in our blood” ujar gw lirih saat itu


---


Fakta lain yang juga mengganggu benak gw..
Penduduk Indonesia umumnya menghabiskan 60% – 90% pendapatannya untuk biaya konsumsi harian. Semakin miskin, semakin banyak proporsi konsumsi hariannya. Yang lebih mengejutkan, 60% biaya konsumsinya habis buat beli rokok, sisanya harus dibagi untuk beli nasi, daging, telur, susu, dan bahan makanan yang digunakan untuk pemenuhan gizi.
Usia awal merokok penduduk Indonesia mengalami kemajuan. Ya, maju dari 16 tahun menjadi 9 tahun, yang artinya perokok indonesia dimulai dari perokok anak.


---


Gw ngga bisa ngebayangain kalo suatu hari nanti anak gw bilang “ma, bagi uang dong.. mau beli rokok nih” atau ada lagu anak-anak yang dinyanyiin penerusnya Melissa “abang tukang rokok, mari mari sini aku mau beli”
Hari ini gw nonton sepotong ucapan seorang Ibu di TV “abisan kalo ngga dibeliin rokok, dia nangis terus.. kan kasihan”


---


Lagi-lagi potongan adegan di rumah sakit beberapa bulan yang lalu yang masih ngeganggu gw


“Komplikasi terburuk dari pasien stroke adalah Respiration Infection, terutama pada pasien perokok” ujar si dokter padaku. Yang langsung terbayang saat itu adalah bagaimana rupa paru-paru perokok 50 tahun yang lagi terbaring di ruang ICU dengan bantuan ventilator.


---


Huah.. Rokok menurut gw adalah simbol tanggung jawab. Tanggung jawab ke diri sendiri dan terutama ke lingkungan terdekat lo. Karena gw ngerasa ngga bisa bertanggung jawab ke diri gw kalo gw ngerokok, sampe sekarang gw ngga pernah ngerokok. Gw juga sudah ngga pernah lagi ngasih duit ke orang lain yang diikuti dengan kata-kata “buat beli rokok”. Hampir semua temen-temen gw tau, kalo gw mau ntraktir jajan ada syaratnya “apa aja, asal bukan untuk beli rokok”.


---


Lagi-lagi khayalan liar di kepala gw.. Mungkin kan ya, Indonesia jadi pemroduksi tembakau terbesar dan terpenting dunia, tapi penduduknya ngonsumsi tembakau dengan bertanggung jawab. Gizi anaknya harus sangat berkecukupan dengan pendidikan yang outstanding?.  


Ki-Ka : Fara, Nic, Jimmy, Pengelola Ponpes, Anaknya, Alex

gw ngga ngerti.. si Nic suka banget ama anak kecil :))

*Haha.. gw nambahin foto mereka karena tiba-tiba kangen mereka

Rabu, 07 Maret 2012

Surat untuk Malam

Dear Malam..

Akhirnya baru sekarang aku sempat menulis surat untuk mu..

Lama sekali kita tidak bertemu ya. Semenit dua aku rindu kamu. Menit ketiga aku tahu kalau itu bukan rindu kamu, tapi rindu kenanganmu.

Malam, beberapa waktu lalu aku menenonton sebuah film. Sepanjang film itu aku sendu.

Adalah sepasang kekasih, yang mereka tahu kalau ngga akan kemana-mana hubungan mereka. Tapi lucunya, diam-diam mereka saling mencintai. Hingga suatu saat si perempuan sadar kalau cepat atau lambat dia akan patah hati juga, karena si laki-laki ngga akan memilih dia. Lalu - si Perempuan pergi, tentu dengan hati yang hancur. Begitu juga si Laki-laki, ngga kalah kesepiannya.

How is it possible to miss a women who he kept at the distance. So then, when she was gone he would not miss her. Only than that he does relialized that he wanting part of her not all of her, and hurt them both.

Aku ingat kata-kata mu Malam, saat aku memaksa mu berkata “dimana Aku”. Saat itu, aku tahu dimana posisiku, dan tidak akan pernah mendapatkan tempat terbesar di hatimu.

I wounded at that time..

Ah.. tapi aku lihat kamu baik-baik saja, atau ya memang kamu pintar menyembunyikannya?

Eits.. tiba-tiba aku dapat kabar berita, kalau ada Aku yang lain.. Mukin memang mekanisme mu seperti itu, selalu jatuh cinta pada sebagian diri perempuan lain.. dan itu akan menyakiti kalian berdua.

Ah.. kamu rupanya tidak lelah untuk menyakiti dirimu sendiri.

Take care Malam.. be good please.

Qiqi

Ps: I love-Hate you, Malam

Rabu, 18 Januari 2012

Sist, pulang siihh..

hari #5

Kalau ada orang di dunia ini yang ngebuat gw serius banget ngejagainnya tuh ya si @puttsuper , adek gw. Anak ini adalah anak yang menggagalkan kesempatan gw untuk jadi anak tunggal kedua orang tua gw. Kami berbeda tujuh tahun.

Mungkin baru 10 tahun belakangan ini kami akur. Sebelumnya? Yah ngga beda jauh kaya anjing dan kucing. Berantem terus ngga pernah akur. Apapun bisa jadi bahan untuk kami berantem.

Hingga suatu saat dia berkuliah di Jogja. Gw tetep di Jakarta, tentu dong jadi anak tunggal lagi. Lucunya, gw sering banget kangen dia. Ternyata, jadi anak tunggal ngga sebegitu menyenangkannya :D

Entahlah, sejak saat itu, gw commit untuk bertanggungjawab ngejagain dia.. hehe yah mungkin untuk temen berantem di kemudian hari ya..

“@puttsuper buruan pulang siihh.. belanja lagi yuuuk”

Selasa, 17 Januari 2012

hey, jarang-jarang di-reply SalebTwitt

Hari #4

Kemarin, Senin 16 Januari 2012 - pagi menjelang siang, gw tersentak oleh sebuah berita di linimasa. Berita itu nunjukin sebuah link download serial favorit gw.. Sherlock Holmes BBC Series Season 2 Episode 3..
Haha, mungkin sebagian besar ngangep gw gila kali ya? Gw teriak kegirangan sampe bikin bos gw ngeliatin dengan bingung - gw, cengar cengir ngeliatin HP. Ngga pake ba bi bu lagi, gw langsung ngoneksiin laptop gw ke internet..

Tiba-tiba gw teringat elu - yang kebetulan pagi itu account lo lagi lari-lari di linimasa gw.
"Aha.. lo pasti ikutan seneng denger berita ini :D" celetuk gw dalem hati.

"Kadang, berbagi berita menyenangkan ke orang lain - yang kita sama-sama tahu kalo orang itu bener-bener punya kesukaan yang sama ama kita - itu menyenangkan!" pikir gw saat itu

jadilah gw tulis twitt gw:
hei, @aMrazing suka Benedict Cumberbatch kan? ini yang SH E0203 udah ada loh http://t.co/7YEo7leQ
haha.. nora' ya? ah bodo amat! dan langsung deh gw balik lagi ke kerjaan gw saat itu - tentu masih sekalian ndownload link yang bikin temen kantor gw penasaran kenapa gw cengangas cengenges di pagi yang kesiang-siangan itu :))

Menjelang makan siang, gw tengok notifikasi HP gw, 5 mentions. Yang bikin kaget, satu diantaranya reply-an dari lo!! haha.. twitt gw ditanggepin ama selebtwitt :))
Alexander Thian: @qi42qi AKKKKK! Yay! Makasih! :)
hihihi.. sebenernya sih gw ngga begitu yakin kalo lo suka Sherlock Holmes.. dan walaupun di episode ini dia ngga selimutan sprei trus pake pakaian lengkap.. tapi kan ini Sherlock-nya si Benedict Cumberbatch gitu loooh.. :))

So, selamat nonton Lexy :D


Minggu, 17 Juli 2011

I Remember

“bukan Gigs biasa” itu hal yang terlintas di pikiran ku saat membaca lini masa sebuah band Indonesia. Di suatu perjalanan dengan menggunakan bis kota menuju Blok M. Grup band tersebut akan menyelenggarakan konser terakhirnya, setelah sudah 12 tahun berkarya.

***

Tibalah kami di sebuah venue “Last Show Mocca” – Hall A Basket, Senayan. Kami – Aku, Dwi, dan Babol – mengambil tempat di kelas Gold duduk dibaris ketiga, bukan tempat yang buruk pikir ku.

Pertunjukan kali ini dikemas dengan cara tidak umum. Disajikan dalam bentuk pertunjukan kabaret yang berjudul “Annabelle and The Music Box” dan juga mengajak beberapa musisi independen Indonesia, seperti SORE, WSATCC, EnR, dan Float untuk berkolaborasi di dalamnya. Menjadikan konser ini memiliki daya tarik tersendiri.

***

Pengetahuanku tentang Mocca sangat minim. Adalah Putu, Barman, dan Topang yang mengenalkanku pada warna suara Arina, vokalis Mocca. Mereka menyanyikan “ Secret Admirer” dari Album My Diary membuatku selanjutnya tertarik untuk meminjam kasetnya.

“huah, setiap lagu dalam album itu berbahasa Inggris” itu adalah komentar pertamaku saat itu, yang mungkin menjadikanku tidak lagi mengikuti perkembangan Mocca selanjutnya.

Tahun 2010, aku iseng mengunjungi Aquarius Mahakam, dan entah kenapa aku tertarik membeli sebuah CD yang dikemas menyerupai sebuah amplop surat dengan kalimat “Dear Friends”. Rupanya ini album terbaru Mocca, sebuah Mini Album yang ternyata album terkahir mereka.

Masih dengan lirik bahasa Inggris.. ingatan saya terbang ke pertengahan 2002 disaat Barman memainkan gitarnya di lobi geografi. “Ah.. gue mau liat Mocca live” sekedar penasaran menikmati konsistensi mereka mengusung warna musik yang unik – genit, ceria, lucu.

***

Lalu tibalah 15 Juli 2011, aku bersama kedua temanku, menyaksikan 2,5 jam pertunjukan Mocca secara live. Memang bukan yang pertama aku menyaksikan Mocca secara live, pernah dalam sebuah pertunjukan JakArtMospher. Namun, bukan dalam sebuah konser tunggal.

Karena merupakan konser terakhir, aku menanti akhir konser ini. Penasaran apa yang akan dilakukan mereka di panggung terakhir mereka.

Arina Ephipania, vokalis yang akan menikah dengan pria berkebangsaan Amerika, yang menjadi penyebab adanya konser terakhir ini terlihat terharu biru.

Apa yang bisa kamu lakukan lagi selain terharu, jika kamu melihat orang-orang yang menyayangi kamu, melepas kepergian mu? Apa yang kamu rasakan jika kamu meningalkan sebuah proyek 12 tahun kamu untuk hal lain di hidup kamu?

Entahlah apa yang dirasakan Arina..

***

Kalau Saya, apa yang saya rasakan setelah menonton konser ini?

Kagum..

Kagum terhadap konsistensi mereka dengan warna musik yang mereka usung. Kagum terhadap persaudaraan yang mereka bangun selama 12 tahun ini. Kagum terhadap karya mereka yang ternyata banyak mengispirasi orang lain.

***

foto oleh Dwiyanti K
***

I remember...The way you glanced at me, yes I remember
I remember...When we caught a shooting star, yes I remember

Ahaha.. Ini lagu Mocca yang paling ku suka.. I remember the way Arina played her fluet with her cute dress, when Toma tapped his bass, Indra played his sticks at his drum, or Riko’s posed with his guitar..

Life goes on and good luck guys :D

Jumat, 08 Juli 2011

Jangan Tanya “Kenapa?”

“Kenapa lo berkerudung Q?” - adalah pertanyaan yang susah untuk gw
Test case pertama gw lakukan pada sebuah acara keluarga. Ngeliat Mama dan Bapak senyum aja gw udah bisa ngerasain nikmatnya penampilan ini. “Ah, satu lagi yaitu tempat kerja” pikir gw saat itu.

Wajah-wajah heran, kaget, senang, acuh, atau mencibir udah gw liat semua..
Haha, mungkin memang itu reaksi yang gw khayalkan terwujud saat pertama kali ke tempat kerja gw dengan penampilan macam ini.
Perasaan yang sama serupa dengan saat pertama kali ke sekolah baru. Deg-deg-an penasaran.
Pada akhirnya, ekspresi dan pendapat orang-orang ini ngga penting untuk gw..

***

Pernah dulu, gw bertanya dengan penasaran ama temen gw – Dewi Indah Sari. “Untuk apa elo ngelakuin semua pencarian, apa yang nyebabin lo nutup aurat”.

“Ayah ku sederhana qi bilangnya - kalau kamu mau ayah dan ibu kamu masuk surga, ikutilah perintah Allah. Menutup aurat salah satunya. Karena pertanggung jawaban seorang bapak adalah pada anak-anaknya dan istrinya” ucapnya saat itu sambil kami berjalan menuju perpustakaan pusat.

***

Sejak itu, gw jarang bertanya “kenapa?” kepada teman-teman gw yang menutup auratnya. Cuek adalah ekspresi yang gw tunjukkan, iri adalah perasaan sesungguhnya. “Gw kapan, ya?”

Karena itu semua sederhana.. Itu adalah Kewajiban. Kewajiban bukan untuk dipertanyaan kalau dijalani.

Jadi ketika gw coba perlahan untuk belajar menunaikan kewajiban, itu bukan hal aneh kan? :D

Rabu, 26 Januari 2011

Butterflies in My Tummy

"Butterflies in my tummy means when your nervous and you can feel it in your stomach! Like a fluttery sensation or something along those lines, explaining the butterfly part,It's to do with the adrenaline!"

Lembut mengalun suara Arina dari laptopku. Adalah Butterflies in My Tummy salah satu lagu dari Dear Friends, album terbaru Mocca.

Pernah kah kamu merasakan grogi teramat sangat, hingga rasa geli di dalam perutmu serasa digelitik kupu-kupu?

Aku sering mengalaminya, tetapi hanya saat-saat tertentu. Ruangan baru, kegiatan baru, kelas baru, kerja baru, atau materi baru.

Namun Arina, seperti biasa, tetap menyanikan lagu cinta

sumber : http://www.facebook.com/photo.php?pid=5760363&id=33404173098

I have butterflies flaying around inside my tummy, when I'm with you

I hear bell chimes ringing blown by the wind of spring, when I'm with you

Oh, this tingling feelin' makes me wanna jump, makes me wanna shout, across the room

Oh, this feeling of longing but damn it's so blinding, I just can't tell If I feel happy or sad

I hear bluebirds singing up around the tree, when I'm with you

Aku hanya rindu merasakan kupu-kupu dalam perutku, saat aku jatuh cinta. Dan ku rasa aku sudah lupa rasanya.

*sigh*

Rabu, 24 November 2010

Hei Kamu

Hei Kamu, pria di sudut jauh.
Tatapmu nyata menyapaku

Hei Kamu, pria di seberangku.
Senyum jahilmu tak lepas ke arah ku

Hei Kamu, pria berkepala plontos.
Konsentrasiku buyar di kelas

Hei Kamu, pria berotak cerdas.
Pertanyaan dan pernyataanmu cadas

Hei Kamu, kenapa kamu murid ku?!

Senin, 25 Oktober 2010

I Forgot My Plans

Perkenalan pertama kaliku dengan Adhitya Sofyan adalah melalui adikku. Melaluinyalah aku mendapatkan info lagu indie terbaru atau yang sedang hip di chart radio lokal. Hingga suatu saat aku menemukan Quiet Down pada rak pamer sebuah toko CD terkemuka. "Oke, ngga ada salahnya gw beli yang ini" pikirku saat itu.

***

Itulah pertama kali aku mendengarkan album Adhitya Sofyan. Semua lagu yang tertulis dan dinyanyikan terasa sangat Adhit, seorang penulis dan penyanyi lagu melankolis. Orang ini benar-benar menulis lagu untuk dirinya sendiri, tidak terpengaruh selera pasar. Liriknya sangat pribadi, seperti membaca sebuah kumpulan puisi di sebuah buku harian. Sejak itulah aku selalu penasaran dan mengikuti perkembangan cowo yang mengaku seorang anti sosial dalam blognya ini.

Beberapa saat yang lalu, ku akses kembali blog tersebut. Walah.. aku temukan album terbarunya, Forget Your Plans. Perasaan yang sama masih aku rasakan saat mendengar album pertamnya, lagi-lagi sangat Adhit. Sebagai orang yang mengaku anti sosial, Adhitya Sofyan relatif eksis di dunia maya. Aku ikuti account twitter dan facebooknya. Sekedar ingin tahu kegiatan hariannya. Jadilah aku, si penguntit Adithya Sofyan.

"So Let it be, I stay your back and breathe. Can't / now you see, there's no way n hell. You can escape me"

Yap, itulah sepenggal lirik Stalker di album terbarunya. Lagu ini benar-benar membuatku tersenyum simpul, "you're so damn right, Adhit" makiku dalam hati.

***

Hingga tiba satu waktu, di sabtu sore. Aku melihat status sebuah pusat perbelanjaan yang akan menayangkan live performance Adhitya Sofyan pada malam hari itu juga. Agrhhrr.. pada saat yang sama aku telah mempunyai rencana lain di tempat yang letaknya relatif jauh dari pusat perbelanjaan tersebut, yang juga menampilkan live performance grup band indie asal Bogor, Music For Sale. Aku tarik nafasku "Sudahlah, mungkin ada lain waktu" pikirku.

Takdir berkata lain. Karena satu dan lain hal, grup band yang akan aku tonton batal tampil. Masih setengah kesal, temanku menyarankan untuk menyaksikan White Shoes And The Couple Company, di Epicentrum Rasuna. Kami masih mendapatkan empat lagunya, Senja Menggila, Selangkah ke Seberang, Matahari, dan Aksi Kucing. Sari, sang vokalis, kali ini sangat bersemangat. Berjoget enerjik di sebuah panggung yang relatif luas. Berbeda saat aku menyaksikannya di Aksara Book Store saat showcase Album Vakansi, panggungnya yang sangat sempit, bebarapa minggu yang lalu bersama seorang temanku.

***

Waktu menunjukkan hampir 21.00. Sekedar iseng, aku lontarkan ajakan gila untuk menuju Barat Jakarta, Serpong. Kegilaan apa kali ini? kedua temanku menyanggupinya! Hingga tibalah, aku duduk diapit kedua temanku, di pelataran antara sebuah mall dan hotel. Pelataran ini didesain untuk menyajikan sebuah pertunjukan. Di pusat sesuah lingkaran, duduklah sosok Adhitya Sofyan, sosok yang selama ini aku kenali wajahnya melalui jendela notebook dan suaranya melalui earphone-ku. Kali ini nyata ada dihadapanku, dengan gitar akustinya, pencahayaan seadanya, tetapi tentu tidak dengan pertunjukan yang biasa.

Aku hanya tersenyum, saat mengingat sepenggal kalimat di blog-nya tentang dirinya sendiri "an anti social, lazy, no-name bedroom musician". "Ahaha.. Adhit, lo beneran jujur" celetukku dalam hati.

Lagu-lagu dari album pertama dan keduanya dimainkan dengan baik, bersih, dan tanpa kesalahan. Memilihmu, In to You, Deadly Storm Lightning Thunder, Number One, Adelaide Sky, Forget Jakarta, After The Rain, dan Apology adalah bebarapa lagu yang aku kenali. Maklum sebagian besar lagunya ditulis dengan bahasa Inggris.

"If I could bottled the smell of the wet land after the rain, I'd make it a perfume and send it to your house"

Yaa.. Adhit menyanyikan After The Rain.. Sasaat, mengingatkan ku pada pria hujanku. Kisah lama dengan lagu baru.. kebetulan yang menyenangkan. :D

Yang kemudian ditutup dengan Apology, "a marvelous song for the last performance" umpat temanku saat itu. Sepertinya dia cukup senang dengan lagu penutup pertunjukan kali ini. "Adhitya Sofyan bener-bener nelanjangin gw!" ucapnya dengan wajah sumringah.

Aku benar-benar tidak ingin tahu apa yang ada dalam pikiran temanku ini. Karena, aku pun sibuk dengan pikiran dan khayalku.

***

Hey you, Mr Adhitya Sofyan.. Thanks for your performance :D

Selasa, 07 September 2010

ilusi ku


Malam ini tanpa bulan,
Langitpun gelap tanpa bintang
Teringat suatu masa, di serupa malam
Di kota para raja

Liar kau sapa aku
Tunjukkan hasrat ingin merengkuhku
Hilangkan ragu pada diriku
Kembalikan aku tuk terbang dan menari

Ku rengkuh liar mu, Ku reguk hasrat mu
Ku hayati lapisan mengejutkanmu
Menikmatimu merasuki sukmaku
Ku perhatikan, ku cumbu, dan ku rekam

Walau ku sadari, kau hanya ilusi
Ilusi indah, yang hampir nyata

Saat itu purnama kedua,
Ku harus hentikan ilusi tentang mu
Karena semakin erat ilusi itu menbekap ku
Semakin besar keinginanku memilikinya

Malam ini kembali ku sendiri,
Terpekur menatap langit gelap tanpa bintang bulan
Teringat ilusi di kota raja
Dengan mu dan sisi liar mu

11/05/2009

Rabu, 01 September 2010

Ikhlas (tanpa tapi)

"What is one big mistake that you made in your life and what did you do to make it right?" itulah sebuah pertanyaan yang diajukan oleh William Baldwin, seorang juri dalam perhelatan Miss Universe 2010, kepada kontestan asal Filipina.

Aku sejenak termenung setelah pertanyaan tersebut dilontarkan. Bukan karena jawaban yang dikemukakan oleh Maria Venus Raj, yang kemudian menjadi runner up ke empat ajang ini, melainkan karena penasaran dengan jawaban dalam hati kecilku.

"Pernahkah aku berbuat salah dalam hidupku?"

Ya, aku bukan seorang perempuan sempurna yang tidak pernah salah, kesalahan bukanlah hal baru untukku. Menurutku yang terpenting adalah, mengambil pelajaran dari setiap kesalahan yang telah ku perbuat. Tentu banyak hati yang telah aku kecewakan, dan yang terburuk adalah hatiku sendiri.

Saat aku kecewa dengan diriku, aku tidak pernah bisa bergerak. Langkah pertama dan yang tersulit adalah memaafkan diriku sendiri. Memaafkan adalah membebaskan tuntutan dari sebuah kesalahan. Memaafkan bukanlah melupakan, karena dengan melupakan aku tidak pernah bisa mengevaluasi kesalahanku.

"Setelah salah, apakah aku menyesal?"

Tentu saja aku menyesal. Seringkali penyesalan ini terbaur dan mempengaruhi uncapan maaf pada diri. Sering kali aku terjebak dalam labirin penyesalan-maaf, dan tersesat di dalamnya.

"Lalu apa yang bisa aku lakukan?"

Hanya belajar ikhlas dalam arti sebenarnyalah yang terus aku lakukan. Hingga saat ini aku belum lulus kelas Ikhlas. Ikhlas dalam arti sebenarnya, sesuai empat ayat dalam Al Quran Surat ke-112.

Katakanlah, "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah tempat meminta segala sesuatu, Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, Dan tidak ada sesuatu pun yang setara Dia."

Ikhlas menyerahkan semuanya kepada Allah, yang maha satu.

Kamis, 29 Juli 2010

Suatu Sore di Jakarta

"temanluarkota (xx/07/2010 10:35:33): Ayolah ketemuan"

"temanluarkota (xx/07/2010 10:38:12): Pngn ngbrl2"

Begitulah pesan singkat yang keluar dari salah satu window messenger-ku.

Menit-menit selanjutnya, aku asik berkirim pesan singkat pada temanku yang lain, untuk membuat janji-temu.

***

Jadilah kami, dua orang pria dan aku, memilih salah satu sudut toko donat di sebuat pusat perbelanjaan tengah kota Jakarta.

Dua orang temanku ini baru saja mengalami babak baru dari hidup mereka, seorang sedang memulai jalan baru menapaki karir barunya, lainnya baru saja lulus salah satu tahap kehidupan akademisnya.

Aku terhenyak di kursiku. Hampir sama dengan mereka, tahapan baru kehidupanku pun baru saja berganti. Layaknya seorang penonton yang disajikan sebuah pertunjukan musik jalanan, spontan. Tidak terduga ide-ide yang mereka cetuskan, saling melengkapi, saling berstrategi. Dan aku melihat satu yang pasti, rasa optimis untuk berkarya.

Hingga tiba satu masa.. "kalo elu gimana, Q? Lo mau ngapain lagi sekarang?"

Ahh, aku hanya tersenyum. Selintas potret khayalku tentang hidup masa depan ku, serasa bagaikan dongeng sebelum tidur. Hanya berada pada tataran ide dewa, belum praktis.

Ahh, aku iri dengan kedua temanku ini. Ide mereka terlalu sederhana, sehingga relatif lebih mudah diterapkan. Dan sepertinya aku harus terus menciptakan ide yang sangat sederhana untuk hidupku. :D

***

Sudut matahari semakin runcing. Sinar silaunya menembus sudut toko tempat kami berada. Jakarta emas di sore ini menemani kecamuk ide di masing-masing kepala kami. Hingga lampu pertokoan dinyalakan, tanda malam pun datang, kami saling berpamitan. Sedikit suntikan energi untuk ide-ide liar yang sederhana, cukup untuk motivasi hari esok. Berani bermimpi, berani mewujudkan, jangan jadi pengecut.

 

Sabtu, 19 Juni 2010

Susah ya..

"Ide oh ide kamu ngumpet dimana?.."

Banyak yang "protes" padaku, kalau pikiranku terlalu kompleks.

Untuk membuktikannya, aku mencoba menulis sebuah cerita yang tidak lebih dari 100 kata.. dan.. ini salah satu proyek gagal nya! hehe

Sketsa dan Foto

**

Kuletakkan kamera ku di meja, sambil menunggu pelayan mengantar pesananku, aku lirikkan pandanganku ke sudut ruangan. Kali ketiga aku dapati wanita itu duduk di sana.

Masih dengan buku sketsa dan pensil gambarnya. Kerut serius tercetak jelas di wajahnya, terkadang tergurat senyuman tipis dari bibir merahnya. Berkali-kali kucuri-bidik sosoknya dengan kameraku.

**

Aku maki dalam hati pelayan yang melintasi ruangan. Pandangannku terhalang, konsentrasiku buyar. Tahapan terakhir harus kuselesaikan kali ini.

Senyum puas mengembang dari bibirku. Sederet kalimat kutambahkan tuk sampaikan sebuah pesan, kusobek lembaran itu.

Kurapikan peralatan ke dalam tas, berajak dari kursiku. Kulintasi ruangan menuju pintu keluar, sebentar kuhentikan langkah. Kutinggal sobekan tadi pada sebuah meja.

**

Sketsa wajah pria yang mirip dengan wajahku tercetak jelas di atas lembaran kertas itu. Aku baca pesan yang tertera, lalu aku tertawa senang dalam hati.

"Kalau kamu masih sendiri, kita ketemu minggu depan di kafe ini. Aku mau jadi model foto kamu – Anggi"

Cerita di atas baru sebayak 150 kata.. itupun setelah mengalami beberapa proses penyuntingan dari lebih 200 kata sebelumnya.. :D

Selasa, 15 Juni 2010

Kapan Aku Akan Menyelesaikan Proyek Ini?

Tertegun aku melihat sebuah file di Compaq-ku. Tercantum "Juli 2009" di metadata file yang kuberi judul Terjaga itu. Kuarahkan krusorku, dengan satu gerakan jari kuakses kembali file tersebut.

"Ahh.. rupanya aku masih punya proyek yang belum terwujud" pikirku sambil membaca rangkaian kata di file itu

"Ya, pagi ini pun dimulai. Masih ada satu pertunjukan yang aku ingin saksikan" pikirku sambil berjalan menuju muka anjungan.

Sambil merebahkan tubuh ini ke sebuah bale-bale nyaman di geladak, secangkir pop mie, ditemani Dido bernyanyi di telingaku, kunikmati siluet gelap Rinjani di hadapanku dan Gunung Agung di sebelah kiri yang semakin menjauh di belakangku.

Ternyata pertunjukan yang kutunggu baru dimulai sekitar pukul 06.30 WITA. Rona jingga mulai terpancar dari balik kaki Rinjani yang kelamaan menjadi semakin terang dengan bulatan bola api raksasa sebagai penyebab warna langit pun menjadi jingga kemerahan.

Satu kata terucap "Subhanallah".

Kapan yah proyek ini terwujud?

Minggu, 06 Juni 2010

After Hour Time

Suatu sore, pernah ku berjalan tergesa. Lalulintas sore itu sangat mengejutkan. Lumpuhnya sebuah segmen jalan bebas hambatan, menjadikan sebagian besar kendaraan terpaksa memutar mencari alternatif lain. Kemacetan terjadi dimanapun menuju pusat kota.

Tiba di sebuah lobi pertokoan, aku layangkan pandangan mencari sosok yang berkata telah tiba hampir satu jam yang lalu. Di tengah keramaian, aku masih juga belum menemukannya. Sia-sia saja aku menghubungi ponselnya, aku tidak bisa mendengar suara di seberang sana karena keramaian di sekelilingku. Sambil berujar dalam hati. "Kamu dimana?"

"Hei, non. Macet banget ya?" sebuah suara mengagetkanku. Ahh.. sosok yang kucari telah berada di dekatku. "Susu asam?" sambil tetap tersenyum, selanya saat waktu jeda dari celotehku tentang maaf dan kemacetan sore itu.

***

Kami memilih sebuah kafe donat yang juga menyediakan coffee latte dan yougurt buah. Sambil duduk di salah satu kelompok kursi, kami terus bertukar kabar kami. Satu, dua, tiga.. ya, tiga batang Marlboro sudah dia habiskan dari kotaknya. Ceritanya belum juga usai mengenai dirinya, bahkan saat minuman di gelas kertasnya habis menyusul habisnya yougurt buahku.

Beranjak kami menuju warung pinggir jalan rekomendasiku. Malam itu aku berjanji menemaninya merasakan ikan laut bakar yang telah lama dia inginkan. Berjalan melintas sisi jalan ibukota, sesekali masih bercanda mengenai hal konyol dan berlari di sebuah zebra cross karena salah membaca signal lampu lalulintas.

Obrolanpun masih berlanjut sebelum dan sesudah makanan yang kami pesan tandas. Hingga seseorang perempuan mendatanginya, meminta bantuan sumbangan untuk sebuah yayasan. Tanpa ragu, dia mengambil dompet dari saku belakang celananya. Sambil mengulurkan selembar pecahan rupiah, dia membuka pembicaraan dengan perempuan itu. Bertanya acara apa yang sedang dikerjakan oleh anak-anak di yayasan tersebut. Rupanya bukan kali ini saja temanku ini menyumbang untuk yayasan tersebut.

"Aku ngga pernah mikirin, yayasan itu ada atau tidak, nyumbang ya nyumbang aja" ujarnya setelah perempuan itu pamit mundur.

"Hingga suatu hari aku dapet sms undangan acara buka puasa dan aku dikasih sebuah buku karangan pengelolanya" lanjutnya lagi.

"Ahh, ternyata yayasan itu benar ada" sambil menghisap dalam rokok keenamnya malam itu.

***

Malam itu sudah larut. Aku bersikeras untuk pulang naik angkutan kota walaupun dia memaksaku menaiki sebuah taksi. Aku hanya ingin menambah waktu lagi untuk bersamanya dan mengajaknya mengenal seluk-beluk kotaku. Diapun menyanggupinya. Ahaha.. tambah satu jam lebih lama lagi saat aku bersamanya.

***

Saat enam menit setelah malam itu berganti hari, sebuah pesan singkat tertulis di ponselku. Alhamdulillah, dia sudah sampai ke kamar kostnya, dan tidak tersesat. Berujarku tanpa suara sambil tersenyum syukur "Allah, sosok ini menyenangkan. Izinkan aku mengenalnya lebih. Itupun jika memang yang terbaik menurut Mu"

Selasa, 01 Juni 2010

Wangimu Menyenangkan

Pernah aku berjalan dengan seseorang, sepulang kampus sehabis kami terjebak hujan bersama. Hujan yang saat itu membuatku bersyukur karena aku bisa lebih mengenal dia. Seorang teman, yang tentunya hanya bisa menjadi teman, yang ternyata menyenangkan. Sambil menertawakan percikan genangan air yang mengotori celana dan sepatu kami, pembicaraan sore itu berlangsung hingga malam datang.

Hingga beberapa bulan yang lalu, aku kembali bertemu dengannya, di suatu acara kumpul-kumpul teman kampus. Aku tahan diriku untuk berseru memanggilnya, hanya melihatnya dari jauh di tengah kerumunan. Aku enggan mengerjapkan mata, tak ingin sedetikpun kehilangan gambarnya dari otakku. Hingga dia melihatku, dan ternyata dia melangkah mendekatiku. Hanya sedikit menghiraukan sapa beberapa temannya, dan juga terus menatap dan berjalan ke arahku.

"hei qiqi, apa kabarnya?" sapanya sambil sedikit menggunakan gerakan memiting leherku.

Sempat kukerjapkan sebentar mataku, hanya untuk memastikan ini bukan mimpi. Terlebih di saat dia mengambil posisi duduk di sebelahku, menghadap kearahku.

Kurasakan aliran emosi dalam diriku, perasaan rindu yang hangat. Kukenali dengan seksama setiap detail wajahnya, jauh lebih menarik saat ini. Ya tentu saja, hidupnya kini jauh lebih berwarna daripada sesaat aku mengenalnya saat kuliah dulu. Hingga aku terdiam sejenak. Aroma tubuhnya kukenali dengan baik, aroma segar dan dingin seperti air, bagai wangi setelah hujan yang tertiup dingin angin.

Ya, aroma tubuhnya menyenangkan. Membuat kerlip di benakku tentang pertemuan-pertemuan kami saat itu. Kami mendekat berbatas norma yang biasa kami indahkan. Ada kata yang tidak pernah terucap, tetapi lebih baik tetap tidak terucap. Saling memandang mata, berbagi senyuman, melontar canda, dan menghirup aroma, kami rasa sudah cukup untuk kami.

Dan sepertinya Tuhan mengizinkan kami untuk kembali sejenak bernostalgia dengan kenangan kami. Kali itu, hujan kembali turun dengan derasnya, menjebak kami bersama lagi. :D

Selasa, 11 Mei 2010

Satu hari itu kusebut “Hari SMS”

Saat ini, komunikasi yang sering aku lakukan adalah melalui salah satu situs jejaring sosial atau fasilitas chatting. Aku terkadang melupakan fasilitas sms melalui handphone, karena jujur saja aku lebih suka telepon langsung. Hingga suatu hari aku jenuh dengan sambungan internet (mungkin hanya satuhari itu saja sih :D); dan aku memilih menggunakan sms.

"Pagi ini aku terbangun dan terdiam.. Terlintas wajah dan tawamu, bagai sekumpulan lembar foto.. Terlintas suara candamu, bagai sebuah pertunjukan kabaret.. kupinjam energi tawa dan candamu, untukku.. pasti bisa kuciptakan bahagia. Makasih temans.. :D Happy Sunday! :p"

Lalu kukirimkan pada beberapa temanku, dengan sebelumnya kupastikan sedang dalam menu Obral Obrol Mentari (Rp.1000 untuk 500 sms). Aku tidak mengharapkan apapun dari sms tersebut, tidak perlu ada alasan khusus untuk setiap tindakan bukan?

Kemudian kutinggal handphone-ku, sambil menunggu report dari provider jikalau semua telat terkirim. Setengah jam kemudian aku kembali melihat handphone-ku. Walah mengagumkan, 24 pesan telah diterima.

Hingga satu harian itu aku dibuat tersenyum atau tertawa melihat beberapa balasan dari teman-temanku. Benar, mereka memberiku kesempatan untuk merasa bahagia dan berarti. Dan tak terasa, lebih dari 200 sms yang aku kirimkan hari itu.

Anne : Thanks sis. God bless u

Topang : Pijitin dong

Kotok : ihiikk.. jd maluuww :D okelah, just pay for it.. hahaha.. happy Sunday too ;)

Candra : hepi sunde to

Dephe : ehmmmmm so swiiiitttt lo abis mimpi buruk ya? Hehehehe

Gitri : duh manis bener ky g3. Hihihi.. Makasih sayang. Met libur jg jeng

Yanti : gelak tawa mengingatkan ku pada dirimu pada rajin mu dan ku pun bertanya mau kah kau membantu bersih bersih kamar.. hehehe met hari minggu hari bersih bersih. Luv u temans

Aish : Makasih qiqiku.. happy Sunday too.. waktunya bobo trus.. hahaha

Barman : woi, udh siang masih ngelindur..

Mair : get some rest will you..!

Momo : knp Q? Tumben.. :p Happy weekend :)

Mbul : ah qiqi ah.. hok.. hok.. hok..

Mpie : hepi Sunday jg qq.. tetap senyum dan semangat ^^

Wepe : jangan lupa mandi :))

Refie : happy Sunday too dear.. ^^

Babols : kyaaa.. baru kelar cuci mobil dpt sms dr Q. Sms perdana di hari minggu ini. :D happy..happy.. happy.. How's u r weekend dear?

Sony : met menciptakan bahagia.. dan pagi ini gw uda terdampar di dunkin poin.. :D

Corry : Happy Sunday jg.. ^.^v Muach

Nurul : makasih juga teman.. Q knapa? Wanna share?

Cungkring : thanks ya Q. Lg bedoa supaya cinta ini hidup u sekali ini saja. Biar tidak ada tangis yang sama dimasa depan nanti

Fajar : hehe.. have a nice weekend to you too.. :D

Maler : Thx sobat. Happy Sunday to u too

Eza : telah kuterima pesanmu.. dan ku baca.. dan aku mengerti.. walk on

Ayun : wat so sweett..

Kenna : terima kasih kembali q.. he5 telat bgt

Dayat : oh ini sms melankolisnya, pertanyaan dari semua jawaban.. :D Makin canggih tulisannya! Ya, kebahagiaan adalah hak asasi manusia, yang jamin Allah langsung! Makanya ada doa Robbana atina fidunya hasanah, wafil akhirati hasanah.. :)

Ahaha.. kayaknya kamu musti coba sekali-kali cara ini. Lumayan ampuh untuk boost your mood! Bahkan kamu bisa memulai ngobrol untuk teman-teman lamamu.