Jumat, 23 Januari 2015
Belajar tidak pesimis dari Banjir
Jumat, 14 Desember 2012
Kabar dari Negeri Lain
Rabu, 26 September 2012
Thailand Hari ke-1 -- Coba Jalani, Lalu Nikmati
Tulisan ini ditulis sebenernya udah basi.. :))
26 Agustus 2012 -- Hari minggu terakhir di bulan Agustus dan tepat seminggu setelah 1 Syawal 1433H. Hari libur lebaran terakhir bagi sebagian besar pekerja di Indonesia. Gw, beranjak pergi ke luar Indonesia untuk pertama kalinya.
Ngelagut -- itu perasaan gw saat itu. Entah kenapa, rasanya ngga se-excited yang gw bayangkan untuk tahapan pertama mimpi besar gw.
Kamis, 31 Mei 2012
Happy World No Tobacco Day
Si Jimmy, bule Aussy yang meneliti tentang investasi di Indonesia, membisikkan pertanyaan ke gw yang harus gw tanyakan ke pengelola ponpes dengan bahasa Indonesia “are they have any sponsor for their activities? Who are they?”.
Baru akan mentranslatenya dalam bahasa Inggris, Alex – bule Aussy yang sering ke Indonesia dibanding temen-temennya – langsung bilang ke Jimmy “they got their money from cigarette company, can you believe that?” yang langsung disambut dengan muka heran Jimmy. “is it possible Q? They work in islamic-educational and they allow money from cigarette?”
Kayak disengat matahari di siang bolong (ya iyalah kita wawancara dipinggir ladang di siang hari), gw tergagap harus menjelaskan pertanyaan Alex dan Jimmy yang keduanya sama-sama memasang muka heran seheran herannya. Lebih heran lagi, saat gw menceritakan bahwa banyak pemilik pabrik rokok di pelosok Indonesia yang merupakan seorang pemuka agama.
Keheranan mereka sedikit mereda saat gw jelaskan tentang industri rokok di Indonesia yang memang sangat membantu perekonomian penduduk sekitar pabrik. Yang langsung diiyakan oleh Alex yang ternyata pernah melihat ratusan perempuan duduk teratur sembari membuat gulungan rokok layaknya mesin. Aku tersenyum mengatakan bahwa Indonesia dengan penduduk keempat terbanyak dunia, dengan sumberdaya manusia yang secukupnya, kami butuh sekali industri padat karya, dan pabrik rokok salah satunya. Kami bahkan sempat tertawa miris bareng, saat gw bilang bahwa gw pernah mendapatkan beasiswa dari salah satu yayasan perusahaan rokok Indonesia.
“Cigarette’s more than breath for Indonesian, it’s in our blood” ujar gw lirih saat itu
---
Fakta lain yang juga mengganggu benak gw..
---
Gw ngga bisa ngebayangain kalo suatu hari nanti anak gw bilang “ma, bagi uang dong.. mau beli rokok nih” atau ada lagu anak-anak yang dinyanyiin penerusnya Melissa “abang tukang rokok, mari mari sini aku mau beli”
---
Lagi-lagi potongan adegan di rumah sakit beberapa bulan yang lalu yang masih ngeganggu gw
“Komplikasi terburuk dari pasien stroke adalah Respiration Infection, terutama pada pasien perokok” ujar si dokter padaku. Yang langsung terbayang saat itu adalah bagaimana rupa paru-paru perokok 50 tahun yang lagi terbaring di ruang ICU dengan bantuan ventilator.
---
Huah.. Rokok menurut gw adalah simbol tanggung jawab. Tanggung jawab ke diri sendiri dan terutama ke lingkungan terdekat lo. Karena gw ngerasa ngga bisa bertanggung jawab ke diri gw kalo gw ngerokok, sampe sekarang gw ngga pernah ngerokok. Gw juga sudah ngga pernah lagi ngasih duit ke orang lain yang diikuti dengan kata-kata “buat beli rokok”. Hampir semua temen-temen gw tau, kalo gw mau ntraktir jajan ada syaratnya “apa aja, asal bukan untuk beli rokok”.
---
Lagi-lagi khayalan liar di kepala gw.. Mungkin kan ya, Indonesia jadi pemroduksi tembakau terbesar dan terpenting dunia, tapi penduduknya ngonsumsi tembakau dengan bertanggung jawab. Gizi anaknya harus sangat berkecukupan dengan pendidikan yang outstanding?.
Rabu, 07 Maret 2012
Surat untuk Malam
Dear Malam..
Akhirnya baru sekarang aku sempat menulis surat untuk mu..
Lama sekali kita tidak bertemu ya. Semenit dua aku rindu kamu. Menit ketiga aku tahu kalau itu bukan rindu kamu, tapi rindu kenanganmu.
Malam, beberapa waktu lalu aku menenonton sebuah film. Sepanjang film itu aku sendu.
Adalah sepasang kekasih, yang mereka tahu kalau ngga akan kemana-mana hubungan mereka. Tapi lucunya, diam-diam mereka saling mencintai. Hingga suatu saat si perempuan sadar kalau cepat atau lambat dia akan patah hati juga, karena si laki-laki ngga akan memilih dia. Lalu - si Perempuan pergi, tentu dengan hati yang hancur. Begitu juga si Laki-laki, ngga kalah kesepiannya.
How is it possible to miss a women who he kept at the distance. So then, when she was gone he would not miss her. Only than that he does relialized that he wanting part of her not all of her, and hurt them both.
Aku ingat kata-kata mu Malam, saat aku memaksa mu berkata “dimana Aku”. Saat itu, aku tahu dimana posisiku, dan tidak akan pernah mendapatkan tempat terbesar di hatimu.
I wounded at that time..
Ah.. tapi aku lihat kamu baik-baik saja, atau ya memang kamu pintar menyembunyikannya?
Eits.. tiba-tiba aku dapat kabar berita, kalau ada Aku yang lain.. Mukin memang mekanisme mu seperti itu, selalu jatuh cinta pada sebagian diri perempuan lain.. dan itu akan menyakiti kalian berdua.
Ah.. kamu rupanya tidak lelah untuk menyakiti dirimu sendiri.
Take care Malam.. be good please.
Qiqi
Ps: I love-Hate you, MalamRabu, 18 Januari 2012
Sist, pulang siihh..
hari #5
Kalau ada orang di dunia ini yang ngebuat gw serius banget ngejagainnya tuh ya si @puttsuper , adek gw. Anak ini adalah anak yang menggagalkan kesempatan gw untuk jadi anak tunggal kedua orang tua gw. Kami berbeda tujuh tahun.
Mungkin baru 10 tahun belakangan ini kami akur. Sebelumnya? Yah ngga beda jauh kaya anjing dan kucing. Berantem terus ngga pernah akur. Apapun bisa jadi bahan untuk kami berantem.
Hingga suatu saat dia berkuliah di Jogja. Gw tetep di Jakarta, tentu dong jadi anak tunggal lagi. Lucunya, gw sering banget kangen dia. Ternyata, jadi anak tunggal ngga sebegitu menyenangkannya :D
Entahlah, sejak saat itu, gw commit untuk bertanggungjawab ngejagain dia.. hehe yah mungkin untuk temen berantem di kemudian hari ya..
“@puttsuper buruan pulang siihh.. belanja lagi yuuuk”
Selasa, 17 Januari 2012
hey, jarang-jarang di-reply SalebTwitt
hei, @aMrazing suka Benedict Cumberbatch kan? ini yang SH E0203 udah ada loh http://t.co/7YEo7leQ
Alexander Thian: @qi42qi AKKKKK! Yay! Makasih! :)hihihi.. sebenernya sih gw ngga begitu yakin kalo lo suka Sherlock Holmes.. dan walaupun di episode ini dia ngga selimutan sprei trus pake pakaian lengkap.. tapi kan ini Sherlock-nya si Benedict Cumberbatch gitu loooh.. :))
Minggu, 17 Juli 2011
I Remember
Tibalah kami di sebuah venue “Last Show Mocca” – Hall A Basket, Senayan. Kami – Aku, Dwi, dan Babol – mengambil tempat di kelas Gold duduk dibaris ketiga, bukan tempat yang buruk pikir ku.
Pertunjukan kali ini dikemas dengan cara tidak umum. Disajikan dalam bentuk pertunjukan kabaret yang berjudul “Annabelle and The Music Box” dan juga mengajak beberapa musisi independen Indonesia, seperti SORE, WSATCC, EnR, dan Float untuk berkolaborasi di dalamnya. Menjadikan konser ini memiliki daya tarik tersendiri.
***
Pengetahuanku tentang Mocca sangat minim. Adalah Putu, Barman, dan Topang yang mengenalkanku pada warna suara Arina, vokalis Mocca. Mereka menyanyikan “ Secret Admirer” dari Album My Diary membuatku selanjutnya tertarik untuk meminjam kasetnya.
“huah, setiap lagu dalam album itu berbahasa Inggris” itu adalah komentar pertamaku saat itu, yang mungkin menjadikanku tidak lagi mengikuti perkembangan Mocca selanjutnya.
Tahun 2010, aku iseng mengunjungi Aquarius Mahakam, dan entah kenapa aku tertarik membeli sebuah CD yang dikemas menyerupai sebuah amplop surat dengan kalimat “Dear Friends”. Rupanya ini album terbaru Mocca, sebuah Mini Album yang ternyata album terkahir mereka.
Masih dengan lirik bahasa Inggris.. ingatan saya terbang ke pertengahan 2002 disaat Barman memainkan gitarnya di lobi geografi. “Ah.. gue mau liat Mocca live” sekedar penasaran menikmati konsistensi mereka mengusung warna musik yang unik – genit, ceria, lucu.
***
Lalu tibalah 15 Juli 2011, aku bersama kedua temanku, menyaksikan 2,5 jam pertunjukan Mocca secara live. Memang bukan yang pertama aku menyaksikan Mocca secara live, pernah dalam sebuah pertunjukan JakArtMospher. Namun, bukan dalam sebuah konser tunggal.
Karena merupakan konser terakhir, aku menanti akhir konser ini. Penasaran apa yang akan dilakukan mereka di panggung terakhir mereka.
Arina Ephipania, vokalis yang akan menikah dengan pria berkebangsaan Amerika, yang menjadi penyebab adanya konser terakhir ini terlihat terharu biru.
Apa yang bisa kamu lakukan lagi selain terharu, jika kamu melihat orang-orang yang menyayangi kamu, melepas kepergian mu? Apa yang kamu rasakan jika kamu meningalkan sebuah proyek 12 tahun kamu untuk hal lain di hidup kamu?
Entahlah apa yang dirasakan Arina..
***
Kalau Saya, apa yang saya rasakan setelah menonton konser ini?
Kagum..
Kagum terhadap konsistensi mereka dengan warna musik yang mereka usung. Kagum terhadap persaudaraan yang mereka bangun selama 12 tahun ini. Kagum terhadap karya mereka yang ternyata banyak mengispirasi orang lain.
***
I remember...The way you glanced at me, yes I remember
I remember...When we caught a shooting star, yes I remember
Ahaha.. Ini lagu Mocca yang paling ku suka.. I remember the way Arina played her fluet with her cute dress, when Toma tapped his bass, Indra played his sticks at his drum, or Riko’s posed with his guitar..
Life goes on and good luck guys :D
Jumat, 08 Juli 2011
Jangan Tanya “Kenapa?”
Test case pertama gw lakukan pada sebuah acara keluarga. Ngeliat Mama dan Bapak senyum aja gw udah bisa ngerasain nikmatnya penampilan ini. “Ah, satu lagi yaitu tempat kerja” pikir gw saat itu.
Wajah-wajah heran, kaget, senang, acuh, atau mencibir udah gw liat semua..
Haha, mungkin memang itu reaksi yang gw khayalkan terwujud saat pertama kali ke tempat kerja gw dengan penampilan macam ini.
Pada akhirnya, ekspresi dan pendapat orang-orang ini ngga penting untuk gw..
Pernah dulu, gw bertanya dengan penasaran ama temen gw – Dewi Indah Sari. “Untuk apa elo ngelakuin semua pencarian, apa yang nyebabin lo nutup aurat”.
“Ayah ku sederhana qi bilangnya - kalau kamu mau ayah dan ibu kamu masuk surga, ikutilah perintah Allah. Menutup aurat salah satunya. Karena pertanggung jawaban seorang bapak adalah pada anak-anaknya dan istrinya” ucapnya saat itu sambil kami berjalan menuju perpustakaan pusat.
Sejak itu, gw jarang bertanya “kenapa?” kepada teman-teman gw yang menutup auratnya. Cuek adalah ekspresi yang gw tunjukkan, iri adalah perasaan sesungguhnya. “Gw kapan, ya?”
Rabu, 26 Januari 2011
Butterflies in My Tummy
Lembut mengalun suara Arina dari laptopku. Adalah Butterflies in My Tummy salah satu lagu dari Dear Friends, album terbaru Mocca.
Pernah kah kamu merasakan grogi teramat sangat, hingga rasa geli di dalam perutmu serasa digelitik kupu-kupu?
Aku sering mengalaminya, tetapi hanya saat-saat tertentu. Ruangan baru, kegiatan baru, kelas baru, kerja baru, atau materi baru.
Namun Arina, seperti biasa, tetap menyanikan lagu cinta

sumber : http://www.facebook.com/photo.php?pid=5760363&id=33404173098
I have butterflies flaying around inside my tummy, when I'm with you
I hear bell chimes ringing blown by the wind of spring, when I'm with you
Oh, this tingling feelin' makes me wanna jump, makes me wanna shout, across the room
Oh, this feeling of longing but damn it's so blinding, I just can't tell If I feel happy or sad
I hear bluebirds singing up around the tree, when I'm with you
Aku hanya rindu merasakan kupu-kupu dalam perutku, saat aku jatuh cinta. Dan ku rasa aku sudah lupa rasanya.
*sigh*
Rabu, 24 November 2010
Hei Kamu
Senin, 25 Oktober 2010
I Forgot My Plans
Perkenalan pertama kaliku dengan Adhitya Sofyan adalah melalui adikku. Melaluinyalah aku mendapatkan info lagu indie terbaru atau yang sedang hip di chart radio lokal. Hingga suatu saat aku menemukan Quiet Down pada rak pamer sebuah toko CD terkemuka. "Oke, ngga ada salahnya gw beli yang ini" pikirku saat itu.
***
Itulah pertama kali aku mendengarkan album Adhitya Sofyan. Semua lagu yang tertulis dan dinyanyikan terasa sangat Adhit, seorang penulis dan penyanyi lagu melankolis. Orang ini benar-benar menulis lagu untuk dirinya sendiri, tidak terpengaruh selera pasar. Liriknya sangat pribadi, seperti membaca sebuah kumpulan puisi di sebuah buku harian. Sejak itulah aku selalu penasaran dan mengikuti perkembangan cowo yang mengaku seorang anti sosial dalam blognya ini.
Beberapa saat yang lalu, ku akses kembali blog tersebut. Walah.. aku temukan album terbarunya, Forget Your Plans. Perasaan yang sama masih aku rasakan saat mendengar album pertamnya, lagi-lagi sangat Adhit. Sebagai orang yang mengaku anti sosial, Adhitya Sofyan relatif eksis di dunia maya. Aku ikuti account twitter dan facebooknya. Sekedar ingin tahu kegiatan hariannya. Jadilah aku, si penguntit Adithya Sofyan.
"So Let it be, I stay your back and breathe. Can't / now you see, there's no way n hell. You can escape me"
Yap, itulah sepenggal lirik Stalker di album terbarunya. Lagu ini benar-benar membuatku tersenyum simpul, "you're so damn right, Adhit" makiku dalam hati.
***
Hingga tiba satu waktu, di sabtu sore. Aku melihat status sebuah pusat perbelanjaan yang akan menayangkan live performance Adhitya Sofyan pada malam hari itu juga. Agrhhrr.. pada saat yang sama aku telah mempunyai rencana lain di tempat yang letaknya relatif jauh dari pusat perbelanjaan tersebut, yang juga menampilkan live performance grup band indie asal Bogor, Music For Sale. Aku tarik nafasku "Sudahlah, mungkin ada lain waktu" pikirku.
Takdir berkata lain. Karena satu dan lain hal, grup band yang akan aku tonton batal tampil. Masih setengah kesal, temanku menyarankan untuk menyaksikan White Shoes And The Couple Company, di Epicentrum Rasuna. Kami masih mendapatkan empat lagunya, Senja Menggila, Selangkah ke Seberang, Matahari, dan Aksi Kucing. Sari, sang vokalis, kali ini sangat bersemangat. Berjoget enerjik di sebuah panggung yang relatif luas. Berbeda saat aku menyaksikannya di Aksara Book Store saat showcase Album Vakansi, panggungnya yang sangat sempit, bebarapa minggu yang lalu bersama seorang temanku.
***
Waktu menunjukkan hampir 21.00. Sekedar iseng, aku lontarkan ajakan gila untuk menuju Barat Jakarta, Serpong. Kegilaan apa kali ini? kedua temanku menyanggupinya! Hingga tibalah, aku duduk diapit kedua temanku, di pelataran antara sebuah mall dan hotel. Pelataran ini didesain untuk menyajikan sebuah pertunjukan. Di pusat sesuah lingkaran, duduklah sosok Adhitya Sofyan, sosok yang selama ini aku kenali wajahnya melalui jendela notebook dan suaranya melalui earphone-ku. Kali ini nyata ada dihadapanku, dengan gitar akustinya, pencahayaan seadanya, tetapi tentu tidak dengan pertunjukan yang biasa.
Aku hanya tersenyum, saat mengingat sepenggal kalimat di blog-nya tentang dirinya sendiri "an anti social, lazy, no-name bedroom musician". "Ahaha.. Adhit, lo beneran jujur" celetukku dalam hati.
Lagu-lagu dari album pertama dan keduanya dimainkan dengan baik, bersih, dan tanpa kesalahan. Memilihmu, In to You, Deadly Storm Lightning Thunder, Number One, Adelaide Sky, Forget Jakarta, After The Rain, dan Apology adalah bebarapa lagu yang aku kenali. Maklum sebagian besar lagunya ditulis dengan bahasa Inggris.
"If I could bottled the smell of the wet land after the rain, I'd make it a perfume and send it to your house"
Yaa.. Adhit menyanyikan After The Rain.. Sasaat, mengingatkan ku pada pria hujanku. Kisah lama dengan lagu baru.. kebetulan yang menyenangkan. :D
Yang kemudian ditutup dengan Apology, "a marvelous song for the last performance" umpat temanku saat itu. Sepertinya dia cukup senang dengan lagu penutup pertunjukan kali ini. "Adhitya Sofyan bener-bener nelanjangin gw!" ucapnya dengan wajah sumringah.
Aku benar-benar tidak ingin tahu apa yang ada dalam pikiran temanku ini. Karena, aku pun sibuk dengan pikiran dan khayalku.
***
Hey you, Mr Adhitya Sofyan.. Thanks for your performance :D
Selasa, 07 September 2010
ilusi ku

Rabu, 01 September 2010
Ikhlas (tanpa tapi)
"What is one big mistake that you made in your life and what did you do to make it right?" itulah sebuah pertanyaan yang diajukan oleh William Baldwin, seorang juri dalam perhelatan Miss Universe 2010, kepada kontestan asal Filipina.
Aku sejenak termenung setelah pertanyaan tersebut dilontarkan. Bukan karena jawaban yang dikemukakan oleh Maria Venus Raj, yang kemudian menjadi runner up ke empat ajang ini, melainkan karena penasaran dengan jawaban dalam hati kecilku.
"Pernahkah aku berbuat salah dalam hidupku?"
Ya, aku bukan seorang perempuan sempurna yang tidak pernah salah, kesalahan bukanlah hal baru untukku. Menurutku yang terpenting adalah, mengambil pelajaran dari setiap kesalahan yang telah ku perbuat. Tentu banyak hati yang telah aku kecewakan, dan yang terburuk adalah hatiku sendiri.
Saat aku kecewa dengan diriku, aku tidak pernah bisa bergerak. Langkah pertama dan yang tersulit adalah memaafkan diriku sendiri. Memaafkan adalah membebaskan tuntutan dari sebuah kesalahan. Memaafkan bukanlah melupakan, karena dengan melupakan aku tidak pernah bisa mengevaluasi kesalahanku.
"Setelah salah, apakah aku menyesal?"
Tentu saja aku menyesal. Seringkali penyesalan ini terbaur dan mempengaruhi uncapan maaf pada diri. Sering kali aku terjebak dalam labirin penyesalan-maaf, dan tersesat di dalamnya.
"Lalu apa yang bisa aku lakukan?"
Hanya belajar ikhlas dalam arti sebenarnyalah yang terus aku lakukan. Hingga saat ini aku belum lulus kelas Ikhlas. Ikhlas dalam arti sebenarnya, sesuai empat ayat dalam Al Quran Surat ke-112.
Katakanlah, "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah tempat meminta segala sesuatu, Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, Dan tidak ada sesuatu pun yang setara Dia."
Ikhlas menyerahkan semuanya kepada Allah, yang maha satu.
Kamis, 29 Juli 2010
Suatu Sore di Jakarta
"temanluarkota (xx/07/2010 10:35:33): Ayolah ketemuan"
"temanluarkota (xx/07/2010 10:38:12): Pngn ngbrl2"
Begitulah pesan singkat yang keluar dari salah satu window messenger-ku.
Menit-menit selanjutnya, aku asik berkirim pesan singkat pada temanku yang lain, untuk membuat janji-temu.
***
Jadilah kami, dua orang pria dan aku, memilih salah satu sudut toko donat di sebuat pusat perbelanjaan tengah kota Jakarta.
Dua orang temanku ini baru saja mengalami babak baru dari hidup mereka, seorang sedang memulai jalan baru menapaki karir barunya, lainnya baru saja lulus salah satu tahap kehidupan akademisnya.
Aku terhenyak di kursiku. Hampir sama dengan mereka, tahapan baru kehidupanku pun baru saja berganti. Layaknya seorang penonton yang disajikan sebuah pertunjukan musik jalanan, spontan. Tidak terduga ide-ide yang mereka cetuskan, saling melengkapi, saling berstrategi. Dan aku melihat satu yang pasti, rasa optimis untuk berkarya.
Hingga tiba satu masa.. "kalo elu gimana, Q? Lo mau ngapain lagi sekarang?"
Ahh, aku hanya tersenyum. Selintas potret khayalku tentang hidup masa depan ku, serasa bagaikan dongeng sebelum tidur. Hanya berada pada tataran ide dewa, belum praktis.
Ahh, aku iri dengan kedua temanku ini. Ide mereka terlalu sederhana, sehingga relatif lebih mudah diterapkan. Dan sepertinya aku harus terus menciptakan ide yang sangat sederhana untuk hidupku. :D
***
Sudut matahari semakin runcing. Sinar silaunya menembus sudut toko tempat kami berada. Jakarta emas di sore ini menemani kecamuk ide di masing-masing kepala kami. Hingga lampu pertokoan dinyalakan, tanda malam pun datang, kami saling berpamitan. Sedikit suntikan energi untuk ide-ide liar yang sederhana, cukup untuk motivasi hari esok. Berani bermimpi, berani mewujudkan, jangan jadi pengecut.
Sabtu, 19 Juni 2010
Susah ya..
"Ide oh ide kamu ngumpet dimana?.."
Banyak yang "protes" padaku, kalau pikiranku terlalu kompleks.
Untuk membuktikannya, aku mencoba menulis sebuah cerita yang tidak lebih dari 100 kata.. dan.. ini salah satu proyek gagal nya! hehe
Sketsa dan Foto
**
Kuletakkan kamera ku di meja, sambil menunggu pelayan mengantar pesananku, aku lirikkan pandanganku ke sudut ruangan. Kali ketiga aku dapati wanita itu duduk di sana.
Masih dengan buku sketsa dan pensil gambarnya. Kerut serius tercetak jelas di wajahnya, terkadang tergurat senyuman tipis dari bibir merahnya. Berkali-kali kucuri-bidik sosoknya dengan kameraku.
**
Aku maki dalam hati pelayan yang melintasi ruangan. Pandangannku terhalang, konsentrasiku buyar. Tahapan terakhir harus kuselesaikan kali ini.
Senyum puas mengembang dari bibirku. Sederet kalimat kutambahkan tuk sampaikan sebuah pesan, kusobek lembaran itu.
Kurapikan peralatan ke dalam tas, berajak dari kursiku. Kulintasi ruangan menuju pintu keluar, sebentar kuhentikan langkah. Kutinggal sobekan tadi pada sebuah meja.
**
Sketsa wajah pria yang mirip dengan wajahku tercetak jelas di atas lembaran kertas itu. Aku baca pesan yang tertera, lalu aku tertawa senang dalam hati.
"Kalau kamu masih sendiri, kita ketemu minggu depan di kafe ini. Aku mau jadi model foto kamu – Anggi"
Cerita di atas baru sebayak 150 kata.. itupun setelah mengalami beberapa proses penyuntingan dari lebih 200 kata sebelumnya.. :D
Selasa, 15 Juni 2010
Kapan Aku Akan Menyelesaikan Proyek Ini?
"Ahh.. rupanya aku masih punya proyek yang belum terwujud" pikirku sambil membaca rangkaian kata di file itu
"Ya, pagi ini pun dimulai. Masih ada satu pertunjukan yang aku ingin saksikan" pikirku sambil berjalan menuju muka anjungan.
Sambil merebahkan tubuh ini ke sebuah bale-bale nyaman di geladak, secangkir pop mie, ditemani Dido bernyanyi di telingaku, kunikmati siluet gelap Rinjani di hadapanku dan Gunung Agung di sebelah kiri yang semakin menjauh di belakangku.
Ternyata pertunjukan yang kutunggu baru dimulai sekitar pukul 06.30 WITA. Rona jingga mulai terpancar dari balik kaki Rinjani yang kelamaan menjadi semakin terang dengan bulatan bola api raksasa sebagai penyebab warna langit pun menjadi jingga kemerahan.
Satu kata terucap "Subhanallah".
Kapan yah proyek ini terwujud?
Minggu, 06 Juni 2010
After Hour Time
Suatu sore, pernah ku berjalan tergesa. Lalulintas sore itu sangat mengejutkan. Lumpuhnya sebuah segmen jalan bebas hambatan, menjadikan sebagian besar kendaraan terpaksa memutar mencari alternatif lain. Kemacetan terjadi dimanapun menuju pusat kota.
Tiba di sebuah lobi pertokoan, aku layangkan pandangan mencari sosok yang berkata telah tiba hampir satu jam yang lalu. Di tengah keramaian, aku masih juga belum menemukannya. Sia-sia saja aku menghubungi ponselnya, aku tidak bisa mendengar suara di seberang sana karena keramaian di sekelilingku. Sambil berujar dalam hati. "Kamu dimana?"
"Hei, non. Macet banget ya?" sebuah suara mengagetkanku. Ahh.. sosok yang kucari telah berada di dekatku. "Susu asam?" sambil tetap tersenyum, selanya saat waktu jeda dari celotehku tentang maaf dan kemacetan sore itu.
***
Kami memilih sebuah kafe donat yang juga menyediakan coffee latte dan yougurt buah. Sambil duduk di salah satu kelompok kursi, kami terus bertukar kabar kami. Satu, dua, tiga.. ya, tiga batang Marlboro sudah dia habiskan dari kotaknya. Ceritanya belum juga usai mengenai dirinya, bahkan saat minuman di gelas kertasnya habis menyusul habisnya yougurt buahku.
Beranjak kami menuju warung pinggir jalan rekomendasiku. Malam itu aku berjanji menemaninya merasakan ikan laut bakar yang telah lama dia inginkan. Berjalan melintas sisi jalan ibukota, sesekali masih bercanda mengenai hal konyol dan berlari di sebuah zebra cross karena salah membaca signal lampu lalulintas.
Obrolanpun masih berlanjut sebelum dan sesudah makanan yang kami pesan tandas. Hingga seseorang perempuan mendatanginya, meminta bantuan sumbangan untuk sebuah yayasan. Tanpa ragu, dia mengambil dompet dari saku belakang celananya. Sambil mengulurkan selembar pecahan rupiah, dia membuka pembicaraan dengan perempuan itu. Bertanya acara apa yang sedang dikerjakan oleh anak-anak di yayasan tersebut. Rupanya bukan kali ini saja temanku ini menyumbang untuk yayasan tersebut.
"Aku ngga pernah mikirin, yayasan itu ada atau tidak, nyumbang ya nyumbang aja" ujarnya setelah perempuan itu pamit mundur.
"Hingga suatu hari aku dapet sms undangan acara buka puasa dan aku dikasih sebuah buku karangan pengelolanya" lanjutnya lagi.
"Ahh, ternyata yayasan itu benar ada" sambil menghisap dalam rokok keenamnya malam itu.
***
Malam itu sudah larut. Aku bersikeras untuk pulang naik angkutan kota walaupun dia memaksaku menaiki sebuah taksi. Aku hanya ingin menambah waktu lagi untuk bersamanya dan mengajaknya mengenal seluk-beluk kotaku. Diapun menyanggupinya. Ahaha.. tambah satu jam lebih lama lagi saat aku bersamanya.
***
Saat enam menit setelah malam itu berganti hari, sebuah pesan singkat tertulis di ponselku. Alhamdulillah, dia sudah sampai ke kamar kostnya, dan tidak tersesat. Berujarku tanpa suara sambil tersenyum syukur "Allah, sosok ini menyenangkan. Izinkan aku mengenalnya lebih. Itupun jika memang yang terbaik menurut Mu"
Selasa, 01 Juni 2010
Wangimu Menyenangkan
Pernah aku berjalan dengan seseorang, sepulang kampus sehabis kami terjebak hujan bersama. Hujan yang saat itu membuatku bersyukur karena aku bisa lebih mengenal dia. Seorang teman, yang tentunya hanya bisa menjadi teman, yang ternyata menyenangkan. Sambil menertawakan percikan genangan air yang mengotori celana dan sepatu kami, pembicaraan sore itu berlangsung hingga malam datang.
Hingga beberapa bulan yang lalu, aku kembali bertemu dengannya, di suatu acara kumpul-kumpul teman kampus. Aku tahan diriku untuk berseru memanggilnya, hanya melihatnya dari jauh di tengah kerumunan. Aku enggan mengerjapkan mata, tak ingin sedetikpun kehilangan gambarnya dari otakku. Hingga dia melihatku, dan ternyata dia melangkah mendekatiku. Hanya sedikit menghiraukan sapa beberapa temannya, dan juga terus menatap dan berjalan ke arahku.
"hei qiqi, apa kabarnya?" sapanya sambil sedikit menggunakan gerakan memiting leherku.
Sempat kukerjapkan sebentar mataku, hanya untuk memastikan ini bukan mimpi. Terlebih di saat dia mengambil posisi duduk di sebelahku, menghadap kearahku.
Kurasakan aliran emosi dalam diriku, perasaan rindu yang hangat. Kukenali dengan seksama setiap detail wajahnya, jauh lebih menarik saat ini. Ya tentu saja, hidupnya kini jauh lebih berwarna daripada sesaat aku mengenalnya saat kuliah dulu. Hingga aku terdiam sejenak. Aroma tubuhnya kukenali dengan baik, aroma segar dan dingin seperti air, bagai wangi setelah hujan yang tertiup dingin angin.
Ya, aroma tubuhnya menyenangkan. Membuat kerlip di benakku tentang pertemuan-pertemuan kami saat itu. Kami mendekat berbatas norma yang biasa kami indahkan. Ada kata yang tidak pernah terucap, tetapi lebih baik tetap tidak terucap. Saling memandang mata, berbagi senyuman, melontar canda, dan menghirup aroma, kami rasa sudah cukup untuk kami.
Dan sepertinya Tuhan mengizinkan kami untuk kembali sejenak bernostalgia dengan kenangan kami. Kali itu, hujan kembali turun dengan derasnya, menjebak kami bersama lagi. :D
Selasa, 11 Mei 2010
Satu hari itu kusebut “Hari SMS”
Saat ini, komunikasi yang sering aku lakukan adalah melalui salah satu situs jejaring sosial atau fasilitas chatting. Aku terkadang melupakan fasilitas sms melalui handphone, karena jujur saja aku lebih suka telepon langsung. Hingga suatu hari aku jenuh dengan sambungan internet (mungkin hanya satuhari itu saja sih :D); dan aku memilih menggunakan sms.
"Pagi ini aku terbangun dan terdiam.. Terlintas wajah dan tawamu, bagai sekumpulan lembar foto.. Terlintas suara candamu, bagai sebuah pertunjukan kabaret.. kupinjam energi tawa dan candamu, untukku.. pasti bisa kuciptakan bahagia. Makasih temans.. :D Happy Sunday! :p"
Lalu kukirimkan pada beberapa temanku, dengan sebelumnya kupastikan sedang dalam menu Obral Obrol Mentari (Rp.1000 untuk 500 sms). Aku tidak mengharapkan apapun dari sms tersebut, tidak perlu ada alasan khusus untuk setiap tindakan bukan?
Kemudian kutinggal handphone-ku, sambil menunggu report dari provider jikalau semua telat terkirim. Setengah jam kemudian aku kembali melihat handphone-ku. Walah mengagumkan, 24 pesan telah diterima.
Hingga satu harian itu aku dibuat tersenyum atau tertawa melihat beberapa balasan dari teman-temanku. Benar, mereka memberiku kesempatan untuk merasa bahagia dan berarti. Dan tak terasa, lebih dari 200 sms yang aku kirimkan hari itu.
Anne : Thanks sis. God bless u
Topang : Pijitin dong
Kotok : ihiikk.. jd maluuww :D okelah, just pay for it.. hahaha.. happy Sunday too ;)
Candra : hepi sunde to
Dephe : ehmmmmm so swiiiitttt lo abis mimpi buruk ya? Hehehehe
Gitri : duh manis bener ky g3. Hihihi.. Makasih sayang. Met libur jg jeng
Yanti : gelak tawa mengingatkan ku pada dirimu pada rajin mu dan ku pun bertanya mau kah kau membantu bersih bersih kamar.. hehehe met hari minggu hari bersih bersih. Luv u temans
Aish : Makasih qiqiku.. happy Sunday too.. waktunya bobo trus.. hahaha
Barman : woi, udh siang masih ngelindur..
Mair : get some rest will you..!
Momo : knp Q? Tumben.. :p Happy weekend :)
Mbul : ah qiqi ah.. hok.. hok.. hok..
Mpie : hepi Sunday jg qq.. tetap senyum dan semangat ^^
Wepe : jangan lupa mandi :))
Refie : happy Sunday too dear.. ^^
Babols : kyaaa.. baru kelar cuci mobil dpt sms dr Q. Sms perdana di hari minggu ini. :D happy..happy.. happy.. How's u r weekend dear?
Sony : met menciptakan bahagia.. dan pagi ini gw uda terdampar di dunkin poin.. :D
Corry : Happy Sunday jg.. ^.^v Muach
Nurul : makasih juga teman.. Q knapa? Wanna share?
Cungkring : thanks ya Q. Lg bedoa supaya cinta ini hidup u sekali ini saja. Biar tidak ada tangis yang sama dimasa depan nanti
Fajar : hehe.. have a nice weekend to you too.. :D
Maler : Thx sobat. Happy Sunday to u too
Eza : telah kuterima pesanmu.. dan ku baca.. dan aku mengerti.. walk on
Ayun : wat so sweett..
Kenna : terima kasih kembali q.. he5 telat bgt
Dayat : oh ini sms melankolisnya, pertanyaan dari semua jawaban.. :D Makin canggih tulisannya! Ya, kebahagiaan adalah hak asasi manusia, yang jamin Allah langsung! Makanya ada doa Robbana atina fidunya hasanah, wafil akhirati hasanah.. :)
Ahaha.. kayaknya kamu musti coba sekali-kali cara ini. Lumayan ampuh untuk boost your mood! Bahkan kamu bisa memulai ngobrol untuk teman-teman lamamu.




