Tampilkan postingan dengan label 2010 ku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 2010 ku. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 Juni 2010

After Hour Time

Suatu sore, pernah ku berjalan tergesa. Lalulintas sore itu sangat mengejutkan. Lumpuhnya sebuah segmen jalan bebas hambatan, menjadikan sebagian besar kendaraan terpaksa memutar mencari alternatif lain. Kemacetan terjadi dimanapun menuju pusat kota.

Tiba di sebuah lobi pertokoan, aku layangkan pandangan mencari sosok yang berkata telah tiba hampir satu jam yang lalu. Di tengah keramaian, aku masih juga belum menemukannya. Sia-sia saja aku menghubungi ponselnya, aku tidak bisa mendengar suara di seberang sana karena keramaian di sekelilingku. Sambil berujar dalam hati. "Kamu dimana?"

"Hei, non. Macet banget ya?" sebuah suara mengagetkanku. Ahh.. sosok yang kucari telah berada di dekatku. "Susu asam?" sambil tetap tersenyum, selanya saat waktu jeda dari celotehku tentang maaf dan kemacetan sore itu.

***

Kami memilih sebuah kafe donat yang juga menyediakan coffee latte dan yougurt buah. Sambil duduk di salah satu kelompok kursi, kami terus bertukar kabar kami. Satu, dua, tiga.. ya, tiga batang Marlboro sudah dia habiskan dari kotaknya. Ceritanya belum juga usai mengenai dirinya, bahkan saat minuman di gelas kertasnya habis menyusul habisnya yougurt buahku.

Beranjak kami menuju warung pinggir jalan rekomendasiku. Malam itu aku berjanji menemaninya merasakan ikan laut bakar yang telah lama dia inginkan. Berjalan melintas sisi jalan ibukota, sesekali masih bercanda mengenai hal konyol dan berlari di sebuah zebra cross karena salah membaca signal lampu lalulintas.

Obrolanpun masih berlanjut sebelum dan sesudah makanan yang kami pesan tandas. Hingga seseorang perempuan mendatanginya, meminta bantuan sumbangan untuk sebuah yayasan. Tanpa ragu, dia mengambil dompet dari saku belakang celananya. Sambil mengulurkan selembar pecahan rupiah, dia membuka pembicaraan dengan perempuan itu. Bertanya acara apa yang sedang dikerjakan oleh anak-anak di yayasan tersebut. Rupanya bukan kali ini saja temanku ini menyumbang untuk yayasan tersebut.

"Aku ngga pernah mikirin, yayasan itu ada atau tidak, nyumbang ya nyumbang aja" ujarnya setelah perempuan itu pamit mundur.

"Hingga suatu hari aku dapet sms undangan acara buka puasa dan aku dikasih sebuah buku karangan pengelolanya" lanjutnya lagi.

"Ahh, ternyata yayasan itu benar ada" sambil menghisap dalam rokok keenamnya malam itu.

***

Malam itu sudah larut. Aku bersikeras untuk pulang naik angkutan kota walaupun dia memaksaku menaiki sebuah taksi. Aku hanya ingin menambah waktu lagi untuk bersamanya dan mengajaknya mengenal seluk-beluk kotaku. Diapun menyanggupinya. Ahaha.. tambah satu jam lebih lama lagi saat aku bersamanya.

***

Saat enam menit setelah malam itu berganti hari, sebuah pesan singkat tertulis di ponselku. Alhamdulillah, dia sudah sampai ke kamar kostnya, dan tidak tersesat. Berujarku tanpa suara sambil tersenyum syukur "Allah, sosok ini menyenangkan. Izinkan aku mengenalnya lebih. Itupun jika memang yang terbaik menurut Mu"

Selasa, 01 Juni 2010

Wangimu Menyenangkan

Pernah aku berjalan dengan seseorang, sepulang kampus sehabis kami terjebak hujan bersama. Hujan yang saat itu membuatku bersyukur karena aku bisa lebih mengenal dia. Seorang teman, yang tentunya hanya bisa menjadi teman, yang ternyata menyenangkan. Sambil menertawakan percikan genangan air yang mengotori celana dan sepatu kami, pembicaraan sore itu berlangsung hingga malam datang.

Hingga beberapa bulan yang lalu, aku kembali bertemu dengannya, di suatu acara kumpul-kumpul teman kampus. Aku tahan diriku untuk berseru memanggilnya, hanya melihatnya dari jauh di tengah kerumunan. Aku enggan mengerjapkan mata, tak ingin sedetikpun kehilangan gambarnya dari otakku. Hingga dia melihatku, dan ternyata dia melangkah mendekatiku. Hanya sedikit menghiraukan sapa beberapa temannya, dan juga terus menatap dan berjalan ke arahku.

"hei qiqi, apa kabarnya?" sapanya sambil sedikit menggunakan gerakan memiting leherku.

Sempat kukerjapkan sebentar mataku, hanya untuk memastikan ini bukan mimpi. Terlebih di saat dia mengambil posisi duduk di sebelahku, menghadap kearahku.

Kurasakan aliran emosi dalam diriku, perasaan rindu yang hangat. Kukenali dengan seksama setiap detail wajahnya, jauh lebih menarik saat ini. Ya tentu saja, hidupnya kini jauh lebih berwarna daripada sesaat aku mengenalnya saat kuliah dulu. Hingga aku terdiam sejenak. Aroma tubuhnya kukenali dengan baik, aroma segar dan dingin seperti air, bagai wangi setelah hujan yang tertiup dingin angin.

Ya, aroma tubuhnya menyenangkan. Membuat kerlip di benakku tentang pertemuan-pertemuan kami saat itu. Kami mendekat berbatas norma yang biasa kami indahkan. Ada kata yang tidak pernah terucap, tetapi lebih baik tetap tidak terucap. Saling memandang mata, berbagi senyuman, melontar canda, dan menghirup aroma, kami rasa sudah cukup untuk kami.

Dan sepertinya Tuhan mengizinkan kami untuk kembali sejenak bernostalgia dengan kenangan kami. Kali itu, hujan kembali turun dengan derasnya, menjebak kami bersama lagi. :D

Selasa, 11 Mei 2010

Satu hari itu kusebut “Hari SMS”

Saat ini, komunikasi yang sering aku lakukan adalah melalui salah satu situs jejaring sosial atau fasilitas chatting. Aku terkadang melupakan fasilitas sms melalui handphone, karena jujur saja aku lebih suka telepon langsung. Hingga suatu hari aku jenuh dengan sambungan internet (mungkin hanya satuhari itu saja sih :D); dan aku memilih menggunakan sms.

"Pagi ini aku terbangun dan terdiam.. Terlintas wajah dan tawamu, bagai sekumpulan lembar foto.. Terlintas suara candamu, bagai sebuah pertunjukan kabaret.. kupinjam energi tawa dan candamu, untukku.. pasti bisa kuciptakan bahagia. Makasih temans.. :D Happy Sunday! :p"

Lalu kukirimkan pada beberapa temanku, dengan sebelumnya kupastikan sedang dalam menu Obral Obrol Mentari (Rp.1000 untuk 500 sms). Aku tidak mengharapkan apapun dari sms tersebut, tidak perlu ada alasan khusus untuk setiap tindakan bukan?

Kemudian kutinggal handphone-ku, sambil menunggu report dari provider jikalau semua telat terkirim. Setengah jam kemudian aku kembali melihat handphone-ku. Walah mengagumkan, 24 pesan telah diterima.

Hingga satu harian itu aku dibuat tersenyum atau tertawa melihat beberapa balasan dari teman-temanku. Benar, mereka memberiku kesempatan untuk merasa bahagia dan berarti. Dan tak terasa, lebih dari 200 sms yang aku kirimkan hari itu.

Anne : Thanks sis. God bless u

Topang : Pijitin dong

Kotok : ihiikk.. jd maluuww :D okelah, just pay for it.. hahaha.. happy Sunday too ;)

Candra : hepi sunde to

Dephe : ehmmmmm so swiiiitttt lo abis mimpi buruk ya? Hehehehe

Gitri : duh manis bener ky g3. Hihihi.. Makasih sayang. Met libur jg jeng

Yanti : gelak tawa mengingatkan ku pada dirimu pada rajin mu dan ku pun bertanya mau kah kau membantu bersih bersih kamar.. hehehe met hari minggu hari bersih bersih. Luv u temans

Aish : Makasih qiqiku.. happy Sunday too.. waktunya bobo trus.. hahaha

Barman : woi, udh siang masih ngelindur..

Mair : get some rest will you..!

Momo : knp Q? Tumben.. :p Happy weekend :)

Mbul : ah qiqi ah.. hok.. hok.. hok..

Mpie : hepi Sunday jg qq.. tetap senyum dan semangat ^^

Wepe : jangan lupa mandi :))

Refie : happy Sunday too dear.. ^^

Babols : kyaaa.. baru kelar cuci mobil dpt sms dr Q. Sms perdana di hari minggu ini. :D happy..happy.. happy.. How's u r weekend dear?

Sony : met menciptakan bahagia.. dan pagi ini gw uda terdampar di dunkin poin.. :D

Corry : Happy Sunday jg.. ^.^v Muach

Nurul : makasih juga teman.. Q knapa? Wanna share?

Cungkring : thanks ya Q. Lg bedoa supaya cinta ini hidup u sekali ini saja. Biar tidak ada tangis yang sama dimasa depan nanti

Fajar : hehe.. have a nice weekend to you too.. :D

Maler : Thx sobat. Happy Sunday to u too

Eza : telah kuterima pesanmu.. dan ku baca.. dan aku mengerti.. walk on

Ayun : wat so sweett..

Kenna : terima kasih kembali q.. he5 telat bgt

Dayat : oh ini sms melankolisnya, pertanyaan dari semua jawaban.. :D Makin canggih tulisannya! Ya, kebahagiaan adalah hak asasi manusia, yang jamin Allah langsung! Makanya ada doa Robbana atina fidunya hasanah, wafil akhirati hasanah.. :)

Ahaha.. kayaknya kamu musti coba sekali-kali cara ini. Lumayan ampuh untuk boost your mood! Bahkan kamu bisa memulai ngobrol untuk teman-teman lamamu.

Selasa, 27 April 2010

My first day at 27

"Gais.. Kalo besok ga da acra, dtg kermh jam 11 ye. Jgn lupa bw bju ganti, bju renang dan jaket ^^"

Begitulah tulisan yang tertera pada inbox hp ku. Tanpa ide sedikitpun untuk membalas sms seorang temanku ini, kusakukan kembali HP ku. "Nanti saja" pikirku.

".. .. Dia mau berbagi aja, ga semuanya perlu alasan q " itu ujar seorang teman, saat aku bertanya mengenai undangan tersebut

***

"anjrit.. geblek.. tanjakan maut..". "gila ini lebih dari 50 derajat, kok bisa-bisanya dibangun bangunan, kan tanah kritis". "bentar q, gw ngatur nafas dulu, deg degan jantung gw, lemes kaki gw ngelewatin tanjakan tadi"

Itulah kata-kata yang kami ucapkan sesaat mobil yang kutumpangi terparkir dengan sempurna di sebuah parkiran sebuah komplek penginapan. Yups, ditengah kepenatan akan dateline tesis, work plan sebuah pekerjaan, kerangka sample sebuah penelitian hibah, dan lembaran ujian yang harus dikoreksi, aku memutuskan untuk memenuhi undangan yang ditujukan padaku.

***

Tempatnya memang indah. Bagunan yang kami tempati memliliki pemandangan kota kecil di malam hari dengan siluet gelap salah satu gugus pegunungan Gede Pangrango. Aku sangat mencintai malam, aku suka udaranya, aku suka gelapnya, aku suka harumnya, aku suka suaranya. Dengan tambahan pemandangan alam dan bulan hampir penuh, malam itu menakjubkan.

Lambat laun celoteh teman-temanku, mengeras, melengkapi suasana malam itu. Ditemani beberapa teman yang asik dengan rokoknya, menghalau dingin dengan pasmina, sarung, atau jaketnya, menghangatkan perut dengan sop iga dan sate kambing, melatih kekuatan gigi dan pencernaannya dengan Kriuuk, atau sekedar meneguk aqua gelas, humor ringan, gosip itu ini, cerita nostalgia, atau beberapa curhat colongan menghiasi pembicaraan malam itu.

Mereka teman-temanku.. dunia baru untukku.. Dimulai dari keinginan membantu "pandawa lima" aku mendapatkan mereka satu paket. Ini kelompok terbanyakku saat ini, bahkan dalam sejarah hidupku. Pernah aku sekedar ingin mentraktir berbuka puasa di sebuah warung bakso di tepi Margonda, ternyata jumlah mereka melebihi 10 orang. Pernah juga aku membantu meng-arrange sebuah acara berlibur ke Anyer, ternyata mobil yang harus digunakan lebih dari tiga. "Banyak banget" pikirku saat itu.

Dari mereka aku banyak belajar. Disaat yang sama, aku banyak terdiam dan merenung. Menurutku mereka seperti mozaik ubin pecah di lantai rumah seorang temanku, warna-warni, berbagai bentuk dan ukuran, mungkin berantakan dan tidak sempurna. Namun, jika kamu melihatnya dari jarak tertentu, maka akan terlihat indah dan bermakna.

***

Lagu selamat ulang tahun yang tidak sempurna, jabat tangan, sentuhan di pundak, pelukan, atau ciuman penambah semangat, bungkus kado yang susah dibuka, perasaan yang aneh dari perutku, hingga air dingin kolam renang yang menembus masuk, serta doa yang terucap atau hanya terpikirkan untuk diucapkan, menemaniku mengawali 27 ku.

Sesaat aku berpikir, ini cuma khayalanku. Hingga ku kerjapkan mataku, ternyata mereka memang nyata. Malam itu, tempat itu, celotehan-celotehan itu, semuanya nyata. Dan aku mungkin cuma sepotong ubin dengan warna aneh, tapi dengan mereka di sekitarku akupun terlihat indah.

***

Happy Birthday Q.. be a good girl

Kata terima kasih, tak pernah kurasa cukup untuk mereka

Jumat, 12 Maret 2010

ta elah, seceng doang..


Dengan payung pink-ku, kulangkahkan kaki menuju pos satpam. Hujan yang mengguyur lapangan futsal kali ini membuat permainan segera dihentikan - gerimisbar. Layaknya sepasang kutub yang bertolak belakang, aku memilih menjauhi kerumunan teman-temanku yang sedang berteduh di sisi gedung - karena ada kutub negatifku disana, dan mendekati dua orang satpam yang bertugas sore itu.

Sebagian kecil penghuni kampus sore itu memilih mengendarai motornya keluar dari areal parkir untuk menembus hujan, sebagian besar menunggunya dan berharap hujan segera reda.

Sambil asik menghisap rokoknya, mereka melakukan aktifitasnya - menerima kartu parkir, mencocokkan STNK dengan plat, serta mencoret-coret tabel catatan nomor kendaraan. Terus berlangsung dan terlihat menjemukan. Namun kurasa ada yang janggal dalam pandanganku saat itu..

"Parkir sekarang gratis ya pak?" tanya ku saat itu

"Bayar parkir itu keikhlasan, qi" jawab salah satu dari mereka. "Boro boro dapet seribu satu motor, dapet senyum sama sapaan aja udah syukur" lanjutnya lagi sambil menghisap dalam-dalam rokoknya.

---

Kuraba kantong jaket dan celanaku, ku buka dompet dan dompet receh ku, berharap mendapat selembar uang seribu dari tempat-tempat itu. Tidak ada. Wajahku berubah ceria saat kulihat seorang temanku turun dari ruang kuliah kami.

"Mas, minta seribu donk, aku ngga punya receh nih" ujarku sambil tersenyum manis

"Wah qi, aku juga ngga punya. Memang untuk apa?" jawab sekaligus tanyanya padaku

Sambil terus berjalan disebelahnya, karena tujuan kita kebetulan sama "untuk bayar parkir, mas" jawabku

"wah aku aja ngga pernah bayar, lha kan mereka sudah dibayar fakultas untuk tugasnya itu" jawabnya dengan entengnya

---

Dua kejadian itu membuat aku tercenung dan terdiam sesaat.

Betul.. seorang satpam sudah mendapatkan gaji dari pihak yang mempekerjakannya untuk mengamankan aset perusahaan. Namun menurutku, mereka tidak digaji untuk mengamankan aset pribadi. Sedangkan motor bukan merupakan aset perusahaan tersebut.

Apa salahnya sih menyisihkan Rp.1000 untuk jasa mengawasi aset pribadi kita, sementara disaat yang sama kita dapat tenang beraktivitas?
Disaat lain kita mungkin terpaksa mengeluarkan Rp.1000 untuk seorang pengamen yang berwajah sangar dan bersuara sumbang, karena ketakutan diganggu di sebuah bis kota.

Apa salahnya sih mengucap terima kasih atau sekedar tersenyum saat kita melintasi pos satpam, dengan aset pribadi kita itu?
Toh dengan senyum kita langsung mendapat pahala tanpa kerja keras.


Ah.. aku teringat 12 paweling almarhum buyutku

"9. sumeh nglahirake kasenenganing prasadulur; 10. gemi ngati-ati ngetokake duwit, asal ora jeneng medit"

kira-kira terjemahan bebasnya adalah : 9. jadi orang yang ramah ; 10. hati-hati mengeluarkan uang, tetapi jangan pelit

Ah.. aku kangen si-mbah

Senin, 08 Maret 2010

m e n y e r a h

"Qiqi.. gw nyerah" kata seorang teman melalui telepon genggamku

Ingin rasanya saat itu aku ada disebelahnya.. bukan untuk memegang tangannya atau memeluknya.. Cuma sekedar duduk terdiam disebelahnya, seperti biasa, terdiam menikmati suara nafas kami masing-masing.

Dalam hatiku berteriak.. "jangan nyerah, kalau kamu menyerah, maka kamu mati"
Begitu banyak kata yang sudah ku pelajari dari buku-buku motivasi, tapi aku lebih suka menemani dalam keheningan.

Menurutku setiap orang harus menyelami saat-saat terpuruknya, agar bisa bangkit. Menurutku mekanisme dasar hidup seseorang adalah beradaptasi, yang merupakan bagian dari tidak menyerah. Dengan menyelami hingga dasar keterpurukannya, sejenak berhenti, melihat, dan mengenal dirinya sendiri. Dan aku yakin dia akan kembali berjuang dengan kondisi jauh lebih baik.

Jadi, jangan menyerah..
Karena bisa saja aku butuh teman untuk disebelahku. Mengawasi, jikalau aku terpuruk.
Boleh kan?

Selasa, 02 Maret 2010

Cara Lain Belajar “Spatial Statistic”

Saat ini aku sedang menyusun sebuah tulisan yang pengolahan dasarnya menggunakan salah satu metode statistik keruangan. Literatur tentang metode itu relatif banyak, hanya memahaminya saja yang ku rasa susah untuk otak bebal ku..

Hingga suatu hari, seorang senior ku memposting sebuah email ke dalam milist almamater. Beliau mempostingnya dengan analogi pergerakan mahasiswa di kehidupan kampus. Membacanya membuat aku tersenyum, beliau menjelaskannya dengan sederhana dan menyenangkan..

***

Kenapa pola spatial terbentuk? Berikut adalah cerita temennya seorang kawan tentang contoh pembentukan pola distribusi titik-titik di dalam satu area petak cuplik berbentuk segi empat. Sebuah kelas…

***

Suasana kelas begitu hening. Baris tempat duduk paling depan kosong, baris ke dua terisi satu per tiga, baris ke tiga terisi separo. Kursi-kursi baru terisi full mulai baris ke empat dan seterusnya sampai baris paling belakang….. pada jejeran ke lima! Saat mulai masuk kelas, para mahasiswa nampaknya berebutan memilih tempat duduk pada posisi yang dianggap "aman", makin telat datang makin dipersilahkan untuk menduduki barisan yang lebih mendekati papan tulis atau mimbar dosen. Kalau dilihat dari langit-langit, distribusi kepala2 hitam mengelompok ke arah sudut kanan belakang kelas yang berseberangan dengan mimbar dosen di sudut kiri depan. Luar biasa…! Sebuah pola kepadatan kernel yang bergradasi mengikuti garis-garis diagonal ruang kelas….

Tapi tunggu dulu, ada dua titik pencilan di sebelah depan. Satu berwarna putih, agak lebih mobile gerakannya meski tidak pernah jauh dari mimbar, sedangkan satu lagi berwarna hitam. Sebagaimana titik2 hitam lain, yang terpisah dari kelompoknya ini juga terdiam kaku. Ah… yang warna putih itu ternyata kepala milik pak dosen yang didominasi uban. Dengan wajah merengut, kedua tangan dilipat di dada. Berjalan selangkah, mundur selangkah, bergeser ke kiri, bergerak lagi ke kanan. Yang satu lagi tentu saja kepala mahasiswa yang tertunduk nyungsep hampir masuk ke kerah bajunya.

"Jadi, mas tidak mengerjakan tugas?"

"Mengerjakan, pak…. tapi…."

"Mengerjakan atau tidak?"

"Mengerjakan, pak…. tapi…."

"YAAA…. atau TIDAAAAK…!?"

"Ti… ti… tidak, pak"

"Sontoloyooo…!"

Pak dosen membereskan tas hitam tuanya kemudian meninggalkan kelas. Sebelum kaki beliau benar2 diyakini telah melangkah melewati batas pintu, semua kepala bergeming menunduk. Time series analisis pada skala menit menunjukkan nucleus kernel bergerak perlahan mendekati pintu keluar juga…

***

Suatu hari pada jam pelajaran yang lain. Masih melihat dari langit-langit kelas. Pola acak posisi kepala-kepala hitam yang tersebar, secara perlahan tapi pasti bergerak menuju satu titik ketika ibu dosen mulai berbicara. Dengan kelembutan suara seorang ibu yang penuh kasih sayang beliau berhasil menyihir audience yang tersebar dengan indeks ratio rata-rata tetangga terdekat lebih besar dari satu menjadi kurang dari satu. Mengumpul dalam satu kelompok membentuk pola konsentris von Thunen. Ya… pola konsentris dengan gradasi makin menuju titik terdalam, Z-value-nya makin tinggi. Z-value ini adalah kuantifikasi imajiner dari minat terhadap ilmu yang sedang digelontorkan oleh si ibu dosen di titik sentral… Pola yang terbentuk tidak lagi berkorelasi dengan pola susunan kursi di di dalan kelas  berupa sebuah matriks yang terdiri dari kolom dan baris.

Lingkaran von Thunen akan ancur lebur segera setelah si ibu menyatakan jam pelajaran telah selesai. Pemandangan yang biasa ketika titik-titik hitam terluar dengan Z-value terendah, lebih cepat bergerak, kelompoknya seperti meleleh ke luar melewati pintu mendahului gerakan si ibu dosen…   

***

Setelah jumlah sample dikurangi para oknum mahasiswa yang main gaple di kantin, pola acak bergeming pada index lebih dari 1 menurut itungan average nearest neighbor ratio alias memencar di mana-mana. Pola ini terus bertahan meski seorang asisten dosen telah melangkah masuk kelas dan langsung menuju mimbar. Gemetaran dan kikuk, tak juga hilang meski sudah berkali-kali jadi ban serep pak dosen yang konon sedang tugas ke luar kota. Kalimat pembukaan yang terus diulang-ulang tiap pertemuan kelas, sangat mengesankan, karenanya ngak mudah hilang dari ingatan.

"Eeee… selamat siang sodara-sodara, eee… pak dosen kita masih berhalangan hadir, eee… dan kebetulan, eee… saya dipercaya mewakili beliau, eee… untuk… eee… berdiri di depan kelas ini. Eee… saya bukan berarti, eee… lebih pintar dari kalian, eee… tapi saya kebetulan, eee… lebih dulu belajar mengenai ilmu ini, eee… daripada kalian… eee… bla… bla… bla…"

Pak asdos terus berkisah, berusaha mengusir nervousnya dengan kisah-kisah tentang kiat-kiat belajar, kiat menghadapi pak dosen yang dibantunya, dan lain-lain. Tak mengherankan jika kemudian para mahasiswa di barisan belakang  jadi agak resek, berbisik2 dan senyum2 ditahan… Sumpah, bukan menggunjingkan atau mentertawakan pak asdos, tapi… ternyata mereka juga tak mau kalah berkisah mengenai kisah masing-masing dengan tetangga terdekatnya.

Menjelang jam pelajaran berakhir, biasanya pak asdos memberikan titipan pak dosen berupa foto-copyan halaman-halaman tertentu buku textbook (yang tentu saja bukunya tersedia juga di perpustakaan) untuk diperbanyak. Ketika pak asdos ke luar kelas, tak seorang pun beranjak dari dalam. Mungkin keasyikan meneruskan rumpian yang tanggung dah dimulai. Tapi bisa jadi juga ada alasan lain yang [ngak] masuk akal… yang jelas, kan para penggemar luar ruangan dah pada titip absen sebelum proses belajar mengajar dimulai….!

***

Titik-titik hitam dengan jenis kelamin perempuan membentuk cluster di barisan terdepan pada kursi-kursi yang lebih cenderung dekat dengan mimbar. Kluster yang terbentuk di tengah adalah campuran laki dan perempuan, dan jelas tidak ada perempuan di kluster bagian belakang. Pengelompokkan menurut gender, begitulah kluster-kluster patchy terbentuk ketika pak dosen yang gagah dah duduk di mimbar. Seperti biasa, sebagaimana pertemuan-pertemuan minggu-minggu yang lalu, semua siap dengan buku catatan dan sebuah pena.

"Sampai di mana kemarin?" Pak dosen bertanya sambil membuka diktat

"Sampai di… bla… bla… bla…" Kluster terdepan menyahut serentak

"Baiklah… jadi, yang dinamakan… bla… bla… bla…, sudaaahh..!?"

"Beluuum… sebentar pak…" kluster terdepan serentak menyahut, kluster tengah grendeng-grendeng asal bunyi, kluster belakang…. Bisu.

"Naah… bla… bla… bla… sudaaah… !?" Pak dosen membaca diktat, para mahasiswa mencatatnya… sepanjang jam pelajaran interaksi ini terus berlangsung…

Jam pelajaran berakhir, pak dosen keluar ruangan… Titik-titik hitam dengan cluster patchy segera berubah membentuk satu cluster besar. Nilai distribusi titik dengan segera bertransformasi menjadi kurang dari satu…

"Gue titip…"

"Gue juga, tapi jangan yang disamping KSM, carbonnya bau minyak tanah… suka ngak jelas juga"

Ribut-ribut pada upacara titip foto copy catetan teman ter-rapih dari hasil pelajaran dikte pak dosen selalu terjadi. Heran… padahal ujian masih lama hehe…

***

Pola apa yang terbentuk ketika jumlah sampel hanya lima titik? Ditambah pak dosen bisa dibentuk satu buah hexagon sarang lebah. Pak dosen yang telah jadi bagian dari 5+1 sampel itu, pada akhir semester setengah berbisik akan titip pesan, "Carikan umat yg banyak buat semester depan, ya…!" Rupanya pak dosen sadar betul bahwa dengan jumlah sample hanya enam titik, ngak mungkin orang yg memperhatikan dari langit-langit ngotak-ngatik pake pendekatan krigging, misalnyaaaa…!

"Dengan senang hati…" apa susahnya mencari umat dengan jaminan nilai minimum B hanya dengan menyerahkan klipping seperti anak SD di akhir semester? Gampiiiilll…. !


 

Sumber : [Spatial-Net] Spatial statistics. Senin. 1 Maret 2010. 23.01

Kamis, 28 Januari 2010

Ragam Rupa di Gaya Baru Malam Selatan

"Rasakan dulu baru berkomentar.."

kata-kata itu yang selalu aku ucapkan setiap berpendapat tentang sesuatu hal baru.

Begitu juga dengan menjadi penumpang kereta lintas Jawa kelas ekonomi

Di sebuah siang ku, aku beranikan membeli selembar tiket Gaya Baru Malam Selatan (GBMS), di Stasiun Senen. Pukul 11.34 WIB kulihat jam digital handphone ku – kurang dari satu jam keberangkatan kereta tersebut – 12.20 WIB seperti yang tertera pada jadwal keberangkatannya. Rp. 27.000 itulah sejumlah uang yang harus aku rogoh dari kantongku untuk membayar selembar tiket tersebut – lebih mahal seribu rupiah dari yang tertera di tiket. Belakangan aku ketahui jika membeli kurang dari satu jam sebelum jam keberangkatan, calon penumpang akan dikenakan tambahan Rp 1000 rupiah untuk mendapatkan tiket dengan nomor kursi. G09-4C itulah sederet kode karcis yang kudapatkan, yang artinya gerbong 9 nomor kursi 4C. 4C menandakan aku duduk di kursi untuk tiga orang dan ada di tengah lorong kereta. "Bagus" pikirku sambil tersenyum masam. Tapi sudahlah, sudah kusiapkan mental ku untuk segala kemungkinan terburuk yang mungkin akan kutemui.

Telat, baru pukul 12.28 WIB kereta masuk Stasiun Senen dan baru berangkat pukul 13.03 WIB. Pengap, itulah yang kurasa saat memasuki gerbongku. Mungkin karena kelembaban udara yang tinggi ditambah teriknya matahari khas Jakarta siang hari. Riuh, itu lah yang aku dengar. Penumpang yang ngotot mendapatkan kursi favorit, pedagang yang menjajakan barang dagangan dari kopi instan, minuman dingin, nasi pecel, nasi rames paketan, donat, mainan anak, alat pijat, tukang semir sepatu, tukang sapu gerbong, pengamen, hingga pengemis tidak hentinya berlalu lalang dari gerbong ke gerbong di kereta yang menempuh 825 km dan melintas dari Jakarta hingga Surabaya. Beragam, itulah kesan yang kudapatkan. Aku bagaikan menonton beragam sifat manusia, acuh, egois, ramah, cuek, pemurah, pemurung, dan lainnya. Beragam sifat itu bercampur jadi satu dengan bau keringat, kata-kata vulgar dari berbagai bahasa dan logat sunda, jawa, jawatimuran, hingga sumatra, ragam rupa wajah cantik alami hingga topeng operasi plastik yang tak berani aku pikirkan darimana asalnya.

Dari kereta ini aku melihat berbagai perjuangan untuk berjuang mempertahankan hidup. Pedagang asongan yang tidak hentinya memanggul dan menawarkan dagangannya dari satu gergong ke lainnya, yang sesaat berhenti di bordes untuk sekedar meluruskan punggung, menghilangkan pegal pundaknya, menghisap sebatang rokok, atau sekedar untuk bercada dan menyapa teman atau penumpang yang dikenalnya. Seorang bapak yang bekerja sebagai buruh di beda kota dan pulang setiap akhir minggu untuk bertemu keluarganya, tentulah sangat terbantu dengan adanya kereta ekonomi ini. Sepasang pasangan muda dengan satu balitanya, berusaha pulang ke tempat orangtuanya untuk sekedar mengantar cucu pertama orangtuanya. Mahasiswa yang hidup dalam keterbatasan dan berjuang dengan tagihan bulanan dan kebutuhan bulanan. Dan masih banyak lainnya dengan cerita masing-masing. Ahh, kurang apalagi hidupku? masih saja mengeluh menghadapi semua ini.

Hingga tibalah keretaku di Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta. Kulihat jam digital ku – 23.12 WIB. Kuambil tas ranselku sambil mengucap salam pada teman perjalannku, aku turun dari kereta tersebut. Tidak langsung kutinggalkan Peron Lempuyangan. Aku dudukan tubuhku di bangku peron menunggu hingga kereta tersebut berlalu menuju stasiun terakhirnya. Bersama asa dan mimpi para penumpangnya.

Kamis, 21 Januari 2010

Sebuah Kotak dari Masa Lalu

Hari, itulah nama tokoh yang diperankan Oka Antara, berusaha menghentikan persiapan pernikahan Amanda Umbara (Fanny Fabriana), mantan kekasihnya. Sederhana dan unik, menyentuh sisi nostalgia Amanda, dengan mengirimkan kembali benda-benda "bersejarah" selama 8 tahun masa pacaran mereka ke Amanda.

Di tengah keruwetan dalam mempersiapkan pernikahan sempurnanya, Amanda mendapatkan sekotak memori indah dari seseorang dimasa lalunya. Seseorang yang telah bersamanya sekian lama dan tiba-tiba terselesaikan dengan meninggalkan berbagai tanya yang belum terjawab.

Dimulai dari kotak inilah, Amanda mengalami satu hari yang menjungkirbalikkan keteguhan hatinya. Penegasan akan keinginannya mewujudkan pernikahan sempurna, penegasan tentang apa yang diingini hatinya, keraguan akan pilihan teman hidupnya nanti, tawaran menarik akan nostalgia masa lalu, dan tentang apa yang memang dibutuhkannya. Kotak itu bagaikan kotak pandora, menampilkan begitu banyak warna yang mempengaruhi gambaran ideal yang Amanda pernah pikirkan.

"Aku mungkin ingin kan dia, tapi aku tahu yang aku butuhkan bukan dia.." mungkin itu yang ada dalam benak Amanda diasaat keputusan untuk memilih Hari atau Doddy

Is it really what you want, or is it what you need that matters the most

Klise, tapi memang itu pesan yang dibawa dalam Film Hari Untuk Amanda. Sangat realis dimana manusia terkadang tidak benar-benar mengerti apa yang sebenarnya dibutuhkan.

Hari Untuk Amanda mengambil beberapa lokasi di Jakarta seperti Pasar Mayestik, Blok S, Jalan Sabang, hingga pasar malam, penonton disajikan pemandangan unik Jakarta. Emosi naik turun yang dimainkan pemerannya disajikan dengan plot cerita yang menarik hingga turut dirasakan penontonnya. Visualisasi yang ada terasa sangat realis dan nyata hingga menyajikan satu gambaran yang lengkap petualangan hati Amanda satu hari itu.

Dialog yang disajikan sangat ringan, sehingga mungkin ini lah yang menyebabkan terasa gangguan dalam penyampaian pesan utama film ini. Untungnya dengan bahasa visual yang relatif sempurna, sehingga bahasa verbal yang kurang dapat ditutupi dari bahasa visual yang disajikan.

Dari film ini aku diingatkan untuk selalu iklas dan percaya kepada penciptaku, bahwa Dia akan memberikan yang aku benar-banar butuhkan, bukan semata aku inginkan.